Mendirikan LSM Kebaya merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan, didorong oleh visi seorang transgender Bernama mami Vinolia Wadijo yang sering disapa mami Vin untuk menciptakan ruang aman bagi komunitas transgender, lansia dan penderita HIV/AIDS. Sebuah perjalanan inspiratif yang diawali dari sebuah angan-angan, kini LSM Kebaya yang berlokasi di Jl. Gowongan Lor No. 148, Gowongan, Kec. Jetis, Kota Yogyakarta, menjadi tempat berteduh dan harapan bagi banyak jiwa.
Inspirasi di balik LSM Kebaya
“Untuk mendirikan Yayasan Kebaya, sebetulnya itu hanya menjadi angan-angan lama. Saya ingin berbuat sesuatu untuk teman-teman waria, agar masyarakat memahami bahwa kami juga bagian dari warga negara yang memiliki hak yang sama. Saya ingin menciptakan wadah untuk berserikat, berkumpul, dan menyuarakan hak kami di mata masyarakat,” ujar mami Vin, pendiri LSM Kebaya saat diwawancarai pada 22 Desember 2024.
Dorongan ini muncul dari pengalaman mami melihat diskriminasi dan stigma yang sering dialami para waria. Keinginannya sederhana: menghapus kesalahpahaman dan membuka jalan penerimaan ditengah masyarakat.
Perjalanan menuju berdirinya LSM Kebaya
Perjalanan mendirikan Yayasan kebaya tidaklah muda. “cukup panjang jika diceritakan, tapi singkatnya, inspirasi terbesar datang dari isu HIV di tahun 90-an,” jelas mami. Saat itu, HIV/AIDS menjadi topik yang booming, dan homosekseual sering kali dijadikan kambing hitam sebagai penyebab penyebaran penyakit tersebut. sebagai seorang pekerja seks di masa itu, mami Vin terdorong untuk memperlajari lebih dalam tentang HIV.
“Saya adalah orang yang selalu ingin tahu. Walaupun saya seorang waria, saya suka membaca dan belajar. Dari situ, saya bergabung sebagai relawan disebuah Lembaga masyarakat di Yogyakarta dan belajar tentang HIV. Saya ingin membuktikan bahwa HIV bukan hanya masalah homoseksual, tetapi risiko yang dapat dialami siapa saja,” lanjutnya. Dari pengetahuan itu, mami Vin mulai mengajak komunitasnya untuk memahami cara penularan, pencegahan dan pentingnya tes HIV.
Tantangan Terbesar untuk Komunitas Waria
Menurut mami Vin, tantangan terbesar yang dihadapi komunitas waria adalah sumber daya manusia. “banyak teman-teman waria tidak beruntung dalam Pendidikan, sehingga mereka merasa pasrah dengan kehidupan. Mereka tidak mau belajar lagi, pada hal ada banyak kesempatan untuk berkembang. Tantangan saya adalah merayu mereka untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa kita juga bisa,” ungkap mami Vin.
Fokus pada Transgender, HIV dan Lansia
Fokus LSM Kebaya pada transgender, HIV, dan lansia berakar dari kesadaran bahwa kelompok ini sering kali rentan terhadap diskrimisasi dan penyakit. “transgender adalah kelompok yang rentan terhadap HIV karena perilaku mereka yang berisiko. Saya melihat banyak teman yang terpapar HIV, bahkan meninggal karena tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, saya ingin mereka belajar tentang HIV dan bagaimana hidup sehat meskipun terdiagnosis positif,” ujar mami Vin.
Menghadapi Stigma Masyarakat
Stigma terhadap transgender dan HIV/AIDS masih menjadi tantangan besar. Mami Vin percara bahwa edukasi adalah kunci. “kami harus menawarkan diri kepada masyarakat. Saya sendiri aktif di PKK, irganisasi masyarakat, dan berbagai kegiatan ibu-ibu lansia di lingkungan. Dengan begitu, masyarakat bisa mengenal kami lebih dekat dan menghilangkan prasangka. Tak kenal maka tak sayang, kan? Tambahnya.







