Pelatihan Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Magelang: Mendorong Pariwisata Berkelanjutan

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Kabupaten Magelang, dengan potensi wisata seperti Candi Borobudur, terus berupaya membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Melalui inisiatif Disparpora Kabupaten Magelang, program pelatihan pengembangan desa wisata dirancang untuk meningkatkan pengelolaan destinasi secara holistik, mencakup aspek lingkungan, keamanan, dan pelayanan. Sasaran utama adalah pelaku usaha pariwisata, pengelola objek wisata, dan masyarakat lokal, dengan tujuan menciptakan destinasi yang menarik, aman, bersih, dan profesional. Salah satu pelatihan yang diselenggarakan adalah Pelatihan Strategi dan Inovasi Pengolahan Sampah Efektif, yang berlangsung pada 19 Agustus 2025 di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Kebonsari. Pelatihan ini menjawab tantangan pengelolaan sampah di destinasi wisata padat pengunjung, di mana peserta seperti pengelola objek wisata, pemilik hotel, restoran, dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diajari prinsip pariwisata berkelanjutan dan konsep zero waste destination. Materi mencakup teori dasar 3R (Reuse, Reduce, Recycle), yang menekankan pengurangan penggunaan bahan sekali pakai, pemanfaatan ulang barang, dan daur ulang untuk meminimalkan limbah, serta studi kasus praktik terbaik dari destinasi wisata internasional dengan volume pengunjung tinggi, seperti cara mengelola aliran sampah di pantai atau gunung untuk mencegah pencemaran lingkungan.

Dalam konteks inovasi teknologi, peserta diperkenalkan dengan teknik komposting efisien yang menggunakan mikroorganisme untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk, serta mekanisme bank sampah digital yang memungkinkan pelacakan dan monetisasi sampah daur ulang melalui aplikasi. Bagian penting lainnya adalah penyusunan rencana aksi pengelolaan sampah yang terstruktur, di mana peserta belajar merancang strategi khusus untuk area destinasi mereka, seperti pemisahan sampah di sumber, pengadaan fasilitas daur ulang, dan kampanye edukasi kepada wisatawan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan wisata yang bersih, sehat, dan ekologis, sehingga mendukung pariwisata berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem lokal. Pelatihan berikutnya, yaitu Pelatihan Mitigasi Bencana dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), diselenggarakan pada 25 Agustus 2025 di lokasi yang sama, dengan fokus pada keamanan di tengah risiko bencana alam seperti erupsi Gunung Merapi. Peserta, yakni pemandu wisata, staf hotel, petugas keamanan, dan relawan pariwisata, dilatih prosedur evakuasi darurat, termasuk rute aman dan teknik pengungsian cepat untuk menghindari bahaya, serta mengenali tanda-tanda vital seperti nadi dan pernapasan, dan dasar-dasar P3K seperti penanganan luka, patah tulang, dan syok.

Lebih lanjut, pelatihan ini mencakup simulasi tanggap darurat bencana, seperti latihan evakuasi saat erupsi vulkanik atau gempa bumi, di mana peserta berlatih koordinasi tim dan penggunaan peralatan darurat, serta protokol komunikasi krisis, seperti cara melaporkan insiden ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan mengkoordinasikan respons dengan pihak terkait. Inisiatif ini bertujuan membangun kepercayaan wisatawan terhadap standar keselamatan destinasi lokal, meminimalisir risiko fatalitas, dan memastikan bahwa stakeholder pariwisata siap menghadapi skenario darurat, sehingga meningkatkan daya tarik wisata yang aman dan terpercaya. Terakhir, Pelatihan Peningkatan Keterampilan Komunikasi Bahasa Inggris, yang juga berlangsung pada 25 Agustus 2025 di Balkondes Kebonsari, menargetkan frontliner pariwisata seperti pemandu wisata, resepsionis hotel, staf restoran, dan pedagang suvenir di sekitar Candi Borobudur. Materi dimulai dengan basic conversation, meliputi salam, pertanyaan umum, dan respons sederhana untuk interaksi sehari-hari dengan wisatawan, kemudian beralih ke English for specific purposes, seperti frasa khusus untuk proses check-in hotel, pemesanan makanan di restoran, atau transaksi jual-beli suvenir.

Selain itu, pelatihan ini mencakup pemahaman budaya asing untuk menghindari miskomunikasi, seperti etika berbicara dengan wisatawan dari budaya berbeda, penggunaan bahasa tubuh yang tepat, dan cara menangani keluhan dengan sopan. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik, diharapkan komunikasi dengan wisatawan mancanegara lancar, pengalaman dan kepuasan pengunjung meningkat, serta citra pariwisata Kabupaten Magelang di mata dunia semakin positif, yang pada akhirnya berdampak langsung pada peningkatan pendapatan ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan dan loyalitas wisatawan internasional. Secara keseluruhan, program ini menunjukkan komitmen Kabupaten Magelang untuk pariwisata berkelanjutan, yang tidak hanya bermanfaat bagi wisatawan tetapi juga masyarakat lokal. Melalui pelatihan ini, destinasi wisata diharapkan lebih siap menghadapi tantangan global dan berkontribusi pada pembangunan daerah.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, penulis sebagai mahasiswa magang di Disparpora Kabupaten Magelang  berperan sebagai notulen, yang bertanggung jawab mencatat seluruh rangkaian kegiatan pelatihan secara tertulis dan sistematis. Tugas ini meliputi pendokumentasian materi yang disampaikan oleh narasumber, poin-poin penting diskusi, serta hasil sesi tanya jawab yang berlangsung selama kegiatan. Peran notulen ini penting untuk memastikan seluruh informasi dan rekomendasi hasil pelatihan terdokumentasi sebagai bahan evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan serta perencanaan program pengelolaan sampah berkelanjutan.

Pos terkait