Ketika Ladang Jadi Meja Makan Monyet: Menyulam Harmoni Antara Petani dan Satwa Liar di Gunungkidul

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Pernahkah Anda membayangkan jagung yang ditanam dengan penuh harapan selama berbulan-bulan hilang dalam semalam—bukan karena hama kecil, tapi karena kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang datang bergerombol? Itulah kenyataan pahit yang dialami para petani di Gunungkidul, khususnya di Kalurahan Monggol, Saptosari. Setiap pagi, alih-alih suara ayam, yang terdengar justru teriakan warga dan dentuman seng yang dipukul untuk mengusir kawanan monyet. Ladang yang mestinya jadi sumber pangan, biaya sekolah anak, bahkan modal hidup, berubah menjadi “pesta terbuka” bagi primata yang kehilangan rumah akibat pembangunan pariwisata dan alih fungsi lahan.

Situasi ini bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis bagi para petani. Bayangkan betapa perih rasanya ketika usaha yang dikerjakan sejak musim tanam—dari menyiapkan lahan, menabur benih, hingga merawat dengan penuh tenaga—lenyap begitu saja tanpa hasil panen yang layak. Lebih dari sekadar kerugian ekonomi, fenomena ini juga mencerminkan benturan antara manusia dan alam yang semakin nyata. Di satu sisi, masyarakat berjuang mempertahankan kehidupan dari sektor pertanian, sementara di sisi lain, monyet-monyet itu pun sedang berusaha bertahan hidup setelah habitatnya menyempit dan sumber makanannya kian terbatas.[1]

 

Akar Masalah: Habitat yang Hilang

Dulu, monyet ekor panjang hidup damai di hutan dan semak belukar pesisir selatan. Mereka mencari makan dari buah ketapang, kelapa liar, atau umbu hutan yang tumbuh alami. Namun sejak resort, kafe, dan hotel mewah berdiri megah tanpa kajian lingkungan yang matang, habitat alami itu perlahan lenyap. Kawasan yang dahulu menjadi ruang hidup satwa kini berubah menjadi destinasi wisata dengan jalan beraspal, lampu terang, dan bangunan permanen.

Hilangnya predator alami serta terbukanya “koridor beton” menuju pemukiman membuat populasi monyet makin sulit dikendalikan. Mereka dengan mudah berpindah dari hutan ke ladang, bahkan masuk ke pekarangan rumah warga. Ironisnya, pemerintah justru lebih sibuk membanggakan geliat wisata ketimbang memperbaiki kesalahan tata kelola lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, para petani terpaksa berjaga malam, menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk melindungi jagung, singkong, atau padi yang semakin rapuh di bawah ancaman kawanan monyet.

Menurut penelitian KKN UIN Sunan Kalijaga, penurunan hasil panen di Padukuhan Monggol mencapai 40–50%. Angka itu bukan sekadar data statistik, melainkan potret nyata dari derita petani yang kehilangan hampir setengah sumber penghasilan mereka.[2] Artinya, biaya sekolah anak, tabungan keluarga, hingga kebutuhan sehari-hari harus diputar otak kembali. Bagi sebagian warga, ladang yang dulu menjadi penopang kehidupan kini seolah menjadi arena perebutan ruang antara manusia dan satwa, dengan kerugian paling besar selalu jatuh di pundak petani kecil.

 

Luka yang Menganga di Ladang Petani

Saya pernah duduk bersama petani Monggol. Mereka tidur di bawah terpal, berjaga dengan obor, hanya untuk memastikan jagung tidak habis dijarah. “kalau nggak dijaga, bisa habis dalam semalam,” kata seorang petani dengan wajah letih.

Lebih menyakitkan, secara hukum monyet tidak masuk kategori “hama”. Artinya, mereka tidak bisa ditindak seperti wereng atau belalang. Bagi pejabat, monyet adalah bagian ekosistem. Tapi bagi petani, ekosistem itu terasa semu jika dapur mereka tidak ngebul.

Kepala Dukuh Monggol, Pak Katiyo, bahkan pernah berkata lantang: “Kalau harus menunggu semua itu, pohon berbuah butuh bertahun-tahun. Sementara itu, monyetnya makin banyak. Kami butuh solusi sekarang, bukan nanti.” Kalimat itu adalah jeritan rakyat kecil yang sering kali hanya terdengar sebagai bisikan di telinga pengambil kebijakan.

 

Upaya Mitigasi: Dari Stimulus Hingga Sterilisasi

Beberapa solusi telah diujicoba. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama mahasiswa KKN menggagas program “stimulus makan”: memberi pisang dan ketela di habitat monyet untuk mengalihkan perhatian mereka. Namun, monyet cerdik; stimulus hanya jadi camilan, ladang tetap santapan utama.[3]

Tak hanya program resmi, pada tahun 2021 Pemerintah Gunungkidul pernah mendatangkan masyarakat adat Baduy untuk membantu menangkap monyet secara tradisional.[4] Cara ini terbukti efektif di mata warga karena dalam waktu singkat populasi monyet di sekitar ladang berkurang drastis. Meski dampaknya hanya berlangsung sementara—karena jumlah monyet kembali meningkat setelah beberapa waktu—solusi instan semacam itu tetap disukai masyarakat. Bagi petani, keberhasilan yang bisa dirasakan langsung lebih berarti ketimbang menunggu program jangka panjang yang hasilnya belum pasti.

Untuk jangka panjang, ada rencana menanam zona penyangga dengan pepaya hutan, jambu klutuk, dan talok. Ada pula program sterilisasi monyet jantan guna mengendalikan populasi tanpa harus membunuh. Keberhasilan program sangat bergantung pada koordinasi multi-pihak dan keterlibatan komunitas lokal serta keseriusan komitmen pemerintah daerah, sebagaimana ditegaskan oleh arahan Dirjen KSDAE dalam upaya penanganan monyet ekor panjang di wilayah DIY.[5]

Secara teori, pendekatan ini ramah ekosistem dan sejalan dengan rekomendasi konservasi internasional. Namun bagi petani, menunggu pohon berbuah lima tahun terasa terlalu lama. Dua tahun saja sudah berarti dua musim panen hilang.

 

Konflik Manusia-Macaca: Lebih dari Sekedar Urusan Ladang

Konflik ini bukan sekadar soal jagung yang habis. Ini soal ketahanan pangan, keadilan sosial, dan hak hidup petani. Jika dibiarkan, konflik monyet bisa merambah desa lain, memicu benturan lebih besar, bahkan mengancam stabilitas ekonomi pedesaan.

Selain ekonomi, ada resiko kesehatan yang jarang dibicarakan: zoonosis. Monyet bisa menjadi perantara penyakit menular ke manusia, terutama jika interaksi makin intens. Penelitian menunjukkan bahwa monyet ekor panjang berpotensi membawa virus herpes B dan parasit tertentu yang berbahaya bagi manusia.

Kita belajar bahwa membunuh atau meracun bukan solusi. Justru pendekatan berbasis ekosistem—restorasi habitat, kontrol non-mematikan, dan kolaborasi multi-pihak—adalah jalan keluar yang lebih bijak. Namun, solusi ekosistem harus disertai kebijakan darurat yang berpihak pada petani: kompensasi kerugian, perlindungan langsung, dan percepatan program.

 

Harapan ke Depan: Dari Krisis Menjadi Peluang

Bayangkan jika konflik ini bisa diubah menjadi peluang. Alih-alih hanya dilihat sebagai ancaman, keberadaan monyet ekor panjang dapat dijadikan bagian dari ekowisata edukatif yang memberi manfaat ganda. Desa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kawasan wisata konservasi, tempat wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga belajar mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa menjaga ladang mereka sekaligus memperoleh sumber pemasukan baru yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, program agroforestri—yakni menanam pohon buah di sekitar ladang—bisa menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan kedua pihak. Monyet memperoleh sumber makanan alami dari pepohonan, sementara petani tetap mendapat tambahan hasil panen yang bisa dijual atau dikonsumsi. Lebih jauh, keberadaan hutan mini di tepi ladang juga membantu menjaga kelembapan tanah, mencegah erosi, sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati. Jika dikelola dengan baik, kolaborasi semacam ini dapat memperkuat posisi desa sebagai model konservasi berbasis masyarakat yang mengedepankan kearifan lokal.

Apabila langkah-langkah ini berhasil dijalankan, Gunungkidul tidak hanya menyelesaikan persoalan konflik manusia dengan satwa, tetapi juga membuka jalan baru bagi pembangunan ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Kisah sukses ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa, bahwa dari sebuah krisis justru dapat lahir inovasi sosial dan ekologis yang memberi manfaat luas.

 

Penutup: Menyulam Harmoni, Bukan Menunggu Tragis

Kisah Gunungkidul adalah alarm keras, ia menunjukkan bagaimana pembangunan serampangan bisa berbalik menjadi bumerang: wisata gemerlap di satu sisi, perut rakyat lapar di sisi lain.

Menyelesaikan konflik monyet ekor panjang bukan soal memilih antara manusia atau satwa. Ini soal menemukan cara agar keduanya bisa hidup berdampingan. Karena menjaga ekosistem tanpa menjaga manusia hanyalah utopia, sementara menjaga manusia tanpa peduli satwa hanyalah egoisme jangka pendek.[6]

Kita butuh keberanian politik, ketegasan kebijakan, dan solidaritas sosial. Bukan sekadar “tunggu nanti”, tapi tindakan nyata sekarang. Karena mempertahankan pangan adalah mempertahankan hidup, dan mempertahankan hidup adalah hak paling dasar—bagi manusia maupun satwa.

 

 

 

Daftar Pustaka

[1] “Gangguan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) pada Kebun Campuran di Kabupaten Kuningan | Scientific Exploration: Journal of Indonesian Academic Research,” diakses 11 September 2025, https://sains.uniku.ac.id/index.php/pub/article/view/30.

[2] “Ketika Hutan Bergeser, Monyet Ekor Panjang Meneror Ladang: Suara Petani dari Kacamata Mahasiswa KKN – JogjaVoice,” diakses 11 September 2025, https://jogjavoice.com/berita-lokal-jogja/ketika-hutan-bergeser-monyet-ekor-panjang-meneror-ladang-suara-petani-dari-kacamata-mahasiswa-kkn/.

[3] “Mahasiswa KKN UIN SUKA Fasilitasi Petani Monggol Atasi Gangguan Monyet Ekor Panjang – jurnal9.tv,” diakses 26 Agustus 2025, https://jurnal9.tv/mahasiswa-kkn-uin-suka-fasilitasi-petani-monggol-atasi-gangguan-monyet-ekor-panjang/.

[4] “Monyet-monyet di Gunungkidul Diburu dan Ditangkap, Buat Apa?,” diakses 11 September 2025, https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5737129/monyet-monyet-di-gunungkidul-diburu-dan-ditangkap-buat-apa.

[5] “Road To HKAN: Dirjen KSDAE Dorong Kolaborasi Tangani Konflik Monyet Ekor Panjang di Gunungkidul,” diakses 26 Agustus 2025, https://bksdajogja.org/read/425/road-to-hkan-dirjen-ksdae-dorong-kolaborasi-tangani-konflik-monyet-ekor-panjang-di-gunungkidul.html.

[6] Eka Sulistiyowati dkk., SUMBER DAYA TUMBUHAN DAN KONFLIK ANTARA MANUSIA DAN MONYET MACACA FASCICULARIS DI GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA, t.t.

Pos terkait