Yogyakarta, atau yang sering disebut Jogja, memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Namun, muncul pertanyaan: benarkah Yogyakarta tidak pernah dijajah oleh Belanda? Untuk menjawabnya, mari kita telusuri jejak sejarah yang ada.
Berdirinya Kasultanan Yogyakarta
Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sri Sultan Hamengkubuwono I menjadi sultan pertama yang memimpin Kasultanan Yogyakarta. Pada masa ini, hubungan antara kerajaan-kerajaan di Jawa dan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mulai terjalin, dengan VOC berperan sebagai perusahaan dagang Belanda yang memiliki pengaruh politik signifikan di Nusantara.
Intervensi Inggris dan Belanda dalam Pemerintahan Yogyakarta
Pada tahun 1811, Inggris berhasil mengalahkan Belanda dan mengambil alih kekuasaan di Jawa. Pada masa ini, terjadi peristiwa penting di Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono II, yang saat itu memerintah, dianggap menentang kebijakan Inggris. Akibatnya, pada tahun 1812, pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta, memaksa Sultan HB II turun takhta, dan menggantikannya dengan Sultan Hamengkubuwono III. Selain itu, Inggris memisahkan sebagian wilayah Yogyakarta untuk membentuk Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Pangeran Notokusumo.
Setelah Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda pada tahun 1816, Belanda melanjutkan kebijakan kolonialnya. Meskipun secara hukum Kasultanan Yogyakarta dianggap sebagai negara bawahan (vassal state) dengan kedudukan sejajar, pada praktiknya, pemerintah kolonial Belanda sering melakukan intervensi dalam urusan internal keraton. Belanda memanfaatkan struktur feodal yang ada untuk memperkuat pengaruhnya, seringkali merugikan pihak Kasultanan.
Perlawanan Terhadap Penjajahan
Salah satu bentuk perlawanan signifikan terhadap dominasi Belanda adalah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, perang ini merupakan respon terhadap campur tangan Belanda dalam urusan keraton dan penindasan yang dirasakan rakyat. Meskipun pada akhirnya perlawanan ini berhasil dipadamkan oleh Belanda, perang ini menunjukkan semangat perlawanan yang kuat dari masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta, terhadap penjajahan.






