Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa penggunaannya harus dibatasi di kalangan warga sipil karena api dan asap dapat menyebar ke daerah-daerah berpenduduk.
“Fakta bahwa fosfor putih produksi AS digunakan oleh Israel di Lebanon selatan harus menjadi perhatian besar para pejabat AS,” tulis Tirana Hassan, direktur eksekutif Human Rights Watch, melalui email. “Kongres harus menanggapi laporan penggunaan fosfor putih oleh Israel dengan cukup serius untuk menilai kembali bantuan militer AS kepada Israel.”
Amerika Serikat tidak melakukan penilaian secara real-time terhadap kepatuhan Israel terhadap hukum perang, kata pejabat pemerintahan Biden.
Pada tahun 2009, Human Rights Watch mendokumentasikan penggunaan amunisi fosfor putih buatan AS oleh Israel yang melanggar hukum internasional dalam serangan 22 hari di Gaza. Setidaknya satu cangkang yang ditemukan oleh The Post di Dheira berasal dari kelompok fosfor putih yang sama yang digunakan oleh Israel pada tahun 2009, menurut kode produksi.
Pada tahun 2013, militer Israel berjanji untuk berhenti menggunakan fosfor putih di medan perang, dengan mengatakan akan beralih ke senjata asap berbasis gas. Namun Israel telah menggunakan amunisi tersebut lebih dari 60 kali di wilayah perbatasan Lebanon dalam dua bulan terakhir, menurut data yang dikumpulkan oleh ACLED, sebuah kelompok yang memantau zona perang. Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengatakan pada tanggal 2 Desember 2023 bahwa penggunaan amunisi oleh Israel telah “membunuh warga sipil dan menimbulkan kerusakan permanen pada lebih dari 5 juta meter persegi hutan dan lahan pertanian, selain merusak ribuan pohon zaitun.”
Israel Kembali Gunakan Fosfor Putih
Perang Israel-Gaza telah berlangsung selama sebelas bulan, dan ketegangan semakin meluas ke wilayah sekitarnya. Pada tanggal 7 Oktober 2023, militan Hamas melancarkan serangan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel, termasuk penyanderaan warga sipil di sebuah festival musik.
Israel menyatakan perang terhadap Hamas sebagai tanggapannya, meluncurkan invasi darat yang memicu pengungsian terbesar di wilayah tersebut sejak berdirinya Israel pada tahun 1948.
Meski sempat mengelak, pasukan penjajah Israel akhirnya mengakui kepemilikan amunisi fosfor putih. Meski demikian, pihak penjajah beralasan dan menyebut penggunaan fosfor dilakukan untuk tujuan selain menyerang.
“Kami memiliki cangkang asap yang mengandung fosfor putih, yang ditujukan sebagai kamuflase, bukan untuk tujuan menyerang atau memulai pertempuran,” kata Radio Angkatan Darat Israel pada Selasa (12/11/2023).
Pernyataan Israel itu muncul setelah Gedung Putih menyatakan keprihatinannya atas laporan yang menyatakan Israel menggunakan fosfor putih pasokan AS dalam serangan di Lebanon selatan. “Seperti banyak tentara Barat, tentara Israel juga memiliki cangkang asap yang mengandung fosfor putih, yang adalah legal menurut hukum internasional,” kata Radio Angkatan Darat Israel.
Radio tersebut menambahkan bahwa amunisi secara hukum tak didefinisikan sebagai senjata pembakar. Washington Post melaporkan, dalam serangan Israel pada 16 Oktober di Dheira 2023, dekat perbatasan Lebanon-Israel, Israel disebut-sebut menggunakan amunisi fosfor putih yang dipasok AS hingga membuat sembilan warga sipil terluka.
Kelompok hak asasi manusia Amnesti Internasional menyerukan penyelidikan atas serangan itu dan menyebutnya sebagai potensi kejahatan perang. Di antara sembilan orang yang terluka, setidaknya tiga orang dirawat di rumah sakit, satu di antaranya dirawat selama berhari-hari.
Anadolu juga telah mengambil beberapa foto yang menunjukkan penggunaan bom fosfor putih terhadap warga sipil Gaza. Sementara itu, beberapa pengacara mengatakan, foto itu bisa digunakan sebagai bukti untuk menggugat Israel.
Penggunaan fosfor putih dalam perang oleh penjajah membuat PBB prihatin. Saat ditanya Anadolu tentang laporan Washington Post, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengaku tidak memiliki informasi apa pun untuk mengonfirmasi laporan itu. Meski demikian, Dujarric prihatin jika fosfor putih digunakan, terlebih untuk lingkungan padat penduduk.
“Kami jelas sangat memprihatinkan penggunaan amunisi jenis ini, khususnya di daerah padat penduduk,” kata dia pada Senin waktu setempat. “Tapi, kami akan lihat dulu apa ada hal lain yang bisa saya sampaikan kepada Anda mengenai soal itu,” sambung dia.
Kesaksian tentang penggunaan fosfor putih dalam invasi Gaza oleh Israel sebelumnya diungkap seorang ahli bedah Inggris keturunan Palestina, Ghassan Abu-Sittah. Dokter yang baru saja kembali ke Inggris setelah beberapa pekan bekerja di dua rumah sakit utama di Gaza menuduh Israel menargetkan warga sipil yang melarikan diri dari pengeboman di wilayah yang terkepung dengan fosfor putih dan penembak jitu.
Abu-Sittah, seorang ahli bedah plastik dan pengobatan di daerah perang yang mendokumentasikan buruknya kondisi yang dihadapi staf medis dan pasien di dalam rumah sakit Gaza. Dia mengatakan, serangan itu telah menunjukkan bahwa Israel telah menargetkan sebagian besar anak-anak di wilayah yang terkepung.
Berbicara kepada Middle East Eye di London, Abu-Sittah menyebutkan jumlah korban yang sangat besar, yaitu 7.000 hingga 8.000 orang terluka. Menurut dia, ada sekitar 7.000 anak-anak terbunuh hanya dalam waktu 40 hari. “Sungguh menyedihkan,” katanya.
“Luka-luka yang diderita oleh banyak pasien saya menunjukkan tanda yang mirip dengan luka yang disebabkan oleh penggunaan fosfor putih dan persenjataan pembakar lainnya,” kata Abu-Sittah.
“Setelah invasi darat Israel, untuk pertama kalinya sejak saya berada di Gaza, kami mulai melihat pasien dengan luka-luka akibat tembakan penembak jitu berkecepatan tinggi yang digunakan untuk menyasar warga sipil yang sedang berkunjung atau mencoba mengunjungi rumah sakit.”
Awal Desember 2023, Amnesti Internasional dan Human Rights Watch juga menuduh Israel menggunakan fosfor putih dalam operasi militernya di Gaza dan Lebanon selatan. Militer Israel sebelumnya membantah telah menggunakan fosfor putih dan mengatakan bahwa klaim yang dilontarkan terhadap IDF soal penggunaan fosfor putih di Gaza adalah tidak benar.
Namun, Abu-Sittah berusaha membuktikan kebenaran penggunaan fosfor putih itu. Setelah beroperasi di berbagai zona perang selama 30 tahun kariernya, termasuk Yaman dan Suriah, Abu-Sittah menggambarkan situasi di Gaza sebagai sangat menyedihkan. Dia mengatakan, para dokter seperti dirinya terpaksa menggunakan “cairan pembersih” dan “cuka” untuk mensterilkan luka-luka dan menolong para pasien ketika rumah sakit kewalahan.
“Akhirnya, semuanya habis. Awalnya, kami mengganti larutan antiseptik dengan cairan pembersih dan cuka,” katanya. “Kemudian, akhirnya menjadi morfin dan harus melakukan prosedur tanpa obat bius. Situasinya seperti di abad pertengahan, pasien kami kesakitan.”
Pusat Keadilan Internasional untuk Palestina (ICJP), yang sedang mengumpulkan bukti sebagai bagian dari upayanya untuk mempersiapkan kasus kejahatan perang melawan Israel, mengatakan bahwa Abu-Sittah akan memberikan kesaksian kepada unit Kejahatan Perang Kepolisian Metropolitan London.
Tayyab Ali, yang mengelola ICJP, mengatakan bahwa pusat tersebut mengambil kesaksian saksi mata dari para penyelidik di dalam Gaza dan menyusun daftar dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Israel selama perangnya di wilayah yang terkepung itu. Kelompok hukum tersebut menambahkan bahwa mereka juga akan mengumpulkan bukti-bukti yang menentang warga negara Inggris yang pergi ke Israel untuk berperang di Gaza.







