Sejarah Gontor: Dari “Nggon Kotor” hingga Menjadi Pesantren Berusia 100 Tahun

Gontor

PONOROGO – Seratus tahun lalu, nama Gontor mungkin belum identik dengan salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikenal luas di Indonesia. Kawasan di Ponorogo, Jawa Timur, itu justru memiliki kisah masa lalu yang jauh berbeda.

Pada awal abad ke-20, Gontor dikenal sebagai wilayah terpencil yang berada sekitar 3 kilometer di sebelah timur Tegalsari dan sekitar 11 kilometer tenggara dari Kota Ponorogo.

Kawasan tersebut masih berupa hutan dan belum banyak didatangi masyarakat. Dalam sejumlah catatan sejarah Gontor, wilayah ini bahkan dikenal sebagai tempat yang identik dengan berbagai perilaku negatif.

Nama Gontor sendiri kerap dikaitkan dengan ungkapan “nggon kotor”, yang berarti tempat yang dahulu dianggap “kotor” karena perilaku sebagian masyarakatnya.

Istilah tersebut bukan merujuk pada kondisi lingkungan yang penuh sampah, melainkan pada perilaku sosial masyarakat pada masa itu. Sejumlah sumber sejarah menyebut adanya praktik mo limo, seperti perjudian, mabuk-mabukan, prostitusi, hingga tindakan kriminal.

Namun, perjalanan waktu mengubah wajah Gontor secara drastis.

Dari Gontor Lama hingga Masa Kemunduran

Sebelum berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor, kawasan tersebut telah memiliki sejarah pesantren yang panjang.

Pondok Gontor Lama didirikan oleh Kiai Sulaiman Jamaluddin dan berkembang pesat ketika diteruskan oleh putranya, Kiai Anom Besari.

Dari lembaga pendidikan sederhana tersebut, Gontor kemudian menarik santri dari berbagai daerah. Perkembangannya bahkan menjangkau santri dari luar Jawa Timur, termasuk Jawa Barat.

Namun, memasuki generasi ketiga di bawah kepemimpinan Kiai Santoso Anom Besari, Gontor Lama mengalami kemunduran. Setelah beliau wafat, keberlanjutan kepemimpinan pondok tidak berjalan sebagaimana generasi sebelumnya sehingga kejayaan Gontor Lama pun meredup.

Meski demikian, harapan untuk menghidupkan kembali Gontor tidak pernah benar-benar padam.

Tiga putra Kiai Santoso kemudian menempuh perjalanan pendidikan ke berbagai tempat. Mereka membawa tekad untuk menghidupkan kembali warisan pendidikan yang pernah dibangun oleh leluhur mereka.

Ketiganya kelak dikenal sebagai Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Mereka adalah:

  • K.H. Ahmad Sahal (1901–1977)
  • K.H. Zainuddin Fananie (1908–1967)
  • K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985)

20 September 1926, Titik Balik Gontor

Titik balik itu terjadi pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 H dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pada hari tersebut, ketiga bersaudara itu mendeklarasikan pembukaan kembali Pondok Gontor dengan konsep pendidikan yang kemudian berkembang menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Pendidikan awalnya dimulai melalui Tarbiyatul Athfal.

Menurut catatan resmi PMDG, pendirian Gontor Baru merupakan upaya generasi keempat keluarga pendiri untuk menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama sekaligus memperbarui sistem pendidikannya. (Gontor)

Kata “modern” bukan sekadar nama.

Trimurti membawa gagasan pembaruan pendidikan pesantren dengan memadukan pendidikan agama, ilmu pengetahuan umum, kedisiplinan, sistem asrama, serta penguasaan bahasa asing.

Perjalanan tersebut tidak langsung berjalan mulus.

Santri Sempat Menyusut, Namun Trimurti Bertahan

Ketika sistem pendidikan baru mulai diterapkan, Gontor sempat menghadapi tantangan besar. Perubahan metode pendidikan membuat jumlah santri pernah mengalami penurunan drastis.

Dalam catatan resmi Gontor mengenai pembukaan Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah, jumlah santri yang sebelumnya mencapai ratusan bahkan pernah tinggal 16 orang.

Namun kondisi tersebut tidak membuat Trimurti menyerah.

K.H. Imam Zarkasyi tetap mempertahankan sistem pendidikan yang telah dirancang. Bagi para pendiri, jumlah santri bukan alasan untuk menghentikan pembaruan pendidikan.

Tekad tersebut kemudian membuahkan hasil.

1936, Gontor Melompat Lebih Jauh

Sepuluh tahun setelah berdiri, Gontor kembali membuat langkah penting.

Pada 19 Desember 1936, didirikan Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), lembaga pendidikan tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun.

KMI dirancang untuk mencetak guru-guru Islam dengan sistem pendidikan berasrama. Pendidikan agama dan pengetahuan umum diberikan secara seimbang, sementara Bahasa Arab dan Bahasa Inggris menjadi bagian penting dalam sistem pembelajaran.

Gontor juga menerapkan disiplin kehidupan pesantren secara menyeluruh.

Sistem inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas pendidikan Gontor. (Gontor)

Dari sebuah lembaga pendidikan sederhana, Gontor perlahan tumbuh menjadi institusi pendidikan yang memiliki sistem dan tradisi sendiri.

Satu Abad Kemudian

Kini, September 2026, tepat satu abad setelah berdirinya, Gontor telah memasuki usia 100 tahun.

Pondok Modern Darussalam Gontor secara resmi menggelar rangkaian peringatan satu abad pada 2026. Peringatan tersebut tidak hanya berupa kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk merumuskan arah Gontor memasuki abad kedua. (Gontor)

Pada 20 September 2026, Reuni Akbar 100 Tahun Gontor menjadi salah satu momentum penting. Belasan ribu alumni dari berbagai generasi hadir untuk mengenang perjalanan panjang pondok sekaligus meneguhkan semangat perjuangan memasuki abad kedua. (PPI KPM Gontor)

Dalam rangkaian peringatan tersebut, PMDG juga memperkenalkan visi strategis Gontor untuk abad kedua dengan cita-cita mengembangkan lembaga pendidikan tersebut sebagai gerakan peradaban yang berakar pada pendidikan. (Gontor)

Melahirkan Alumni di Berbagai Bidang

Selama satu abad perjalanan, Gontor telah melahirkan alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, pemerintahan, dakwah, budaya, hingga dunia intelektual.

Di antara nama yang dikenal sebagai alumni Gontor adalah Dr. Hidayat Nur Wahid, M.A., yang pernah menjadi Ketua MPR RI dan kemudian Wakil Ketua MPR RI. Gontor juga mencatat Hidayat Nur Wahid sebagai salah satu alumninya yang aktif dalam kegiatan kepramukaan ketika menjadi santri. (Gontor)

Ada pula Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A., tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Ketua MUI.

Nama lain adalah Lukman Hakim Saifuddin, alumnus Gontor angkatan 1983 yang kemudian menjabat Menteri Agama RI periode 2014–2019. (Gontor)

Gontor juga memiliki jejak alumni seperti K.H. Idham Chalid, tokoh nasional dan Pahlawan Nasional; Prof. Dr. Nurcholish Madjid, cendekiawan dan tokoh pembaruan pemikiran Islam Indonesia; Adnan Pandu Praja, mantan pimpinan KPK; Dr. Yudi Latif, akademisi dan tokoh yang pernah memimpin Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila; serta Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), budayawan dan sastrawan.

Di bidang pemerintahan dan diplomasi, terdapat pula H. Muhammad Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama RI, Dr. Mohammad Idris, Wali Kota Depok, serta Dr. Abdurrahman Mohammad Fachir, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI.

Sementara di lingkungan Nahdlatul Ulama, terdapat nama K.H. Hasyim Muzadi, yang pernah menjabat Ketua Umum PBNU dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Daftar tersebut hanyalah sebagian dari panjangnya kiprah alumni Gontor. Gontor sendiri menyebut ribuan alumninya telah berkiprah di berbagai bidang dan berbagai wilayah dunia. (Gontor)

Dari “Nggon Kotor” Menjadi Pusat Pendidikan

Kisah Gontor menjadi menarik karena perubahan yang terjadi bukan hanya soal usia sebuah pesantren.

Tempat yang dalam catatan sejarahnya dahulu dikenal sebagai kawasan yang dihindari karena berbagai perilaku negatif, dalam perjalanan satu abad justru berkembang menjadi pusat pendidikan Islam dengan jaringan alumni yang luas.

Dari tanah yang pernah disebut sebagai nggon kotor, Trimurti membangun sebuah lembaga pendidikan yang kemudian diwariskan bukan hanya kepada keluarga, tetapi kepada umat.

Pada 12 Oktober 1958, para pendiri Gontor mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah kelembagaan Gontor. (Gontor)

Seratus tahun kemudian, Gontor tidak lagi sekadar nama sebuah desa di Ponorogo.

Ia telah menjadi sebuah tradisi pendidikan, jaringan alumni, dan lembaga yang terus berusaha mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan Trimurti.

Perjalanan Gontor dari 1926 hingga 2026 akhirnya menjadi sebuah cerita tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh melewati pergantian generasi.

Dari sebuah tempat yang dahulu disebut “nggon kotor”, Gontor kini memasuki abad keduanya dengan membawa nama Darussalam—kampung perdamaian

Pos terkait