Pengetahuan merupakan bentuk tindakan seseorang dari apa yang diketahuinya. Pengetahuan bagian penting dari dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku, sehingga dikatakan bahwa pengetahuan adalah fakta yang mendukung tindakan seseorang. Pengetahuan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan. Ibu hamil yang dalam keadaan mengetahui dan memahami kondisi anemia serta tau cara mencegah anemia akan mempunyai perilaku dan tindakan yang positif sehingga dapat terhindar dari dampak penyakit anemia pada kehamilannya.
Pengetahuan seseorang yang baik tentang pentingnya gizi akan selalu memperhatikan jumlah dan jenis makanan yang dipilih dan dibutuhkan tubuh untuk dikonsumsi. Ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan gizi kurang, akan lebih memilih makanan yang menarik dari apa yang mereka lihat hingga tidak memperhatikan kandungannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo yang menyatakan bahwa faktor eksternal untuk memperoleh pengetahuan seseorang. Ibu hamil tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang kehamilan lebih rentan terkena penyakit anemia selama kehamilan dan ini mengakibatkan pengaruh terhadap janin di dalam kandungan.
Menurut survei yang terjadi di masyarakat ibu yang sedang mengalami kehamilan pertama biasanya sangat menjaga kehamilannya dengan cara rajin mengkonsumsi asupan-asupan gizi untuk kehamilannya. Penelitian yang dilakukan di berbagai negara juga menunjukkan bahwa ibu hamil dengan tingkat pendidikan yang rendah cenderung memiliki risiko anemia yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki tingkat pendidikan yaang lebih tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pentingnya asupan zat besi dan nutrisi lainnya yang diperlukan selama kehamilan, dampak dari anemia pada ibu hamil adalah keguguran, pendarahan selama kehamilan, persalinan prematur, gangguan janin, gangguan persalinan dan gangguan pada masa nifas.
Ibu dengan pengetahuan gizi yang baik kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya, ia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan gizi dirinya dan juga calon bayinya. Sebaliknya pengetahuan yang kurang tentang gejala dan risiko anemia juga dapat menyebabkan ibu hamil tidak menyadari kondisi mereka dan tidak mencari perawatan yang tepat. Akibatnya, anemia dapat terus berlanjut dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius baik pada ibu hamil maupun janin.
Penanganan awal yang harus dilakukan kepada ibu hamil yang mengalami anemia adalah pengobatan dengan meresepkan vitamin prenatal, yaitu suplemen zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Suplemen tersebut biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil sebanyak 2-3 kali. Pemberian tablet besi serta peningkatan kualitas makanan sehari-hari dan pemberian edukasi sejak masa pernikahan agar pencegahan terhadap calon ibu hamil.
Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil perlu dilakukan melalui peningkatan tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Program-program pendidikan kesehatan yang ditujukan untuk ibu hamil dapat memberikan informasi yang tepat tentang pentingnya asupan gizi, pola makan sehat, dan perawatan kesehatan selama kehaamilan. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu hamil dapat menjadi langkah efektif dalam mengurangi risiko anemia dan meningkatkan kesehatan ibu hamil serta janinnya.
Sumber pustaka
Diana Sukmaningtyas. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dan Status Gizi Ibu Hamil Dengan Kejadian Anemia Di Puskesmas Gatak Kabupaten Sukoharjo, Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2015.
Anna Mariza. Hubungan Pendidikan Dan Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Di BPS T Yohan Way Halim Bandar Lampung Tahun 2015, Jurnal Kesehatan Holis- tik Vol 10, No 1. Diakses Juni 2019.
Filius Chandra, D. Junita, Tina Y, Fatmawati., 2019. Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Hamil dengan Status Anemia. Indonesian Nursing Scientific Journal. Vol 9.







