Agam Rinjani: Relawan Inspiratif Rela Tidur Dilereng Curam Puncak Rinjani

  • Whatsapp

Magelang News – Abdul Haris Agam, yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani, adalah pemandu dan spesialis vertical rescue dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan jam terbang lebih dari 300 kali mendaki Gunung Rinjani dan keahlian di eksplorasi alam, ia bukan hanya sekadar guide, namun juga relawan yang siap turun tangan di saat krisis.

Pria kelahiran 22 Desember 1988 yang kini dikenal luas sebagai pemandu gunung dan relawan penyelamat di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.

Bacaan Lainnya

Namun siapa sangka, lelaki tangguh ini tumbuh dari latar kehidupan yang begitu keras. Masa kecilnya ditempa di tengah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar. Di sana, ia memulung demi menyambung hidup, mengais harapan dari limbah yang dibuang orang. Tapi hidup menuntunnya ke arah yang tak terduga ke punggung alam, ke udara bebas pegunungan.

Dari lorong-lorong TPA Antang, Agam menapaki perjalanan menuju Sembalun, sebuah desa sejuk di kaki Gunung Rinjani. Di situlah ia menemukan rumah baru, sekaligus jalan hidupnya sebagai pemandu gunung, pelatih penyelamatan vertikal, dan relawan kemanusiaan.

Saat peristiwa Juliana Marins terjatuh ke jurang sedalam 600 meter pada 21 Juni 2025, Agam segera bergabung dengan tim SAR, bahkan menginap di lereng curam semalam hanyalah sekitar 3 meter dari jenazah untuk menjaganya dan memasang ancor demi antisipasi longsor.

Hal yang menyita perharian saat kabar duka itu tersiar, Agam sedang berada di Jakarta, namun tanpa menunggu komando, ia langsung kembali ke Lombok, menanggalkan semua kesibukan pribadi demi satu hal, misi penyelamatan.

Videonya beredar viral, menampilkan momen dramatis saat Agam mempersiapkan tali penyelamat di tebing dan memastikan proses evakuasi berjalan aman.

Ketika jenazah Juliana berhasil dievakuasi pada 25 Juni, Agam secara langsung menyampaikan permintaan maaf melalui Instagram kepada keluarga korban.

“Kami minta maaf tidak bisa membawa Juliana pulang dengan selamat, karena kondisi medan yang berat dan terlalu jauh ke bawah.”

Pos terkait