Omah Jawa Mbuduran Diangkat UNESCO sebagai Warisan Hidup di Borobudur

  • Whatsapp

Borobudur – Di balik kemegahan Candi Borobudur, terdapat warisan budaya lain yang hidup dan diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat, yakni rumah Jawa vernakular. Kearifan lokal tersebut diangkat UNESCO melalui pameran bertajuk “Sambatan: Bongkar Pasang Pengetahuan Omah Jawa Mbuduran” yang digelar di Balkondes Giritengah, Borobudur, Kabupaten Magelang, pada 14–20 Desember 2025.

Kepala Unit Kebudayaan Kantor Regional UNESCO Jakarta, Moe Chiba, menegaskan bahwa Omah Jawa Mbuduran merepresentasikan pengetahuan hidup yang melekat erat dengan identitas masyarakat. Menurutnya, pelestarian arsitektur vernakular merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga nilai budaya dan keberlanjutan kawasan Borobudur.

Bacaan Lainnya

“Di tengah arus modernisasi, rumah-rumah vernakular menghadapi tantangan serius, mulai dari degradasi material alami, menurunnya pewarisan pengetahuan antargenerasi, hingga perubahan pola pembangunan yang mengabaikan kearifan lokal. Jika tidak dijaga, yang hilang bukan hanya bentuk fisik bangunan, tetapi juga cara hidup yang menyertainya,” ujarnya saat membuka pameran.

Pameran ini mengajak publik memandang rumah Jawa bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan cerminan nilai, pengetahuan, dan cara hidup masyarakat yang membentuk lanskap budaya Situs Warisan Dunia Candi Borobudur. Melalui pendekatan partisipatif, pengunjung diajak memahami peran arsitektur vernakular dalam menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan.

Beragam kegiatan edukatif dihadirkan, mulai dari lokakarya praktik, diskusi publik, kolaborasi seniman, program residensi, hingga tur edukatif terpandu. Kegiatan ini terbuka bagi komunitas lokal, profesional, mahasiswa, penyandang disabilitas, hingga masyarakat umum, sehingga menjadi ruang belajar bersama lintas generasi.

Menjawab tantangan pelestarian tersebut, UNESCO bersama Pusat Dokumentasi Arsitektur menginisiasi dokumentasi kolaboratif pada Juli 2024 hingga Februari 2025. Proses ini melibatkan masyarakat lokal, tukang bangunan, pengrajin, serta pelaku budaya untuk merekam kembali praktik arsitektur tradisional yang adaptif terhadap iklim, seperti penggunaan bahan lokal, desain pasif, dan pemanfaatan ulang material.

Direktur Eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur, Febriyanti Suryaningsih, menyampaikan bahwa masyarakat merupakan penjaga utama pengetahuan tersebut. Karena itu, pelibatan publik menjadi kunci agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi mendatang.

Sementara itu, kurator pameran Rifandi menjelaskan bahwa pameran ini menampilkan hasil riset dan dokumentasi pemeliharaan Omah Jawa Mbuduran di sekitar Borobudur. Selain arsip komunitas dan produk budaya, pameran juga menghadirkan kolaborasi seniman dengan pelaku budaya lokal, serta area bermain anak yang mengenalkan siklus hidup dan praktik ruang rumah Jawa.

Tujuan utama riset ini, lanjut Rifandi, adalah memperlihatkan praktik perawatan rumah Jawa Mbuduran sekaligus mengundang komunitas dan seniman dari luar kawasan Borobudur untuk belajar langsung dari rumah-rumah yang masih bertahan, para pelaku budaya, dan pengrajin lokal. Interaksi tersebut diharapkan dapat memperkuat jejaring serta menampilkan berbagai inisiatif komunitas yang telah berkembang.

Nama “Sambatan” dipilih untuk menegaskan bahwa Omah Jawa Mbuduran bukan sekadar warisan eksotis masa lalu, melainkan praktik budaya yang relevan dengan kehidupan masa kini. Riset ini juga mengkaji berbagai tantangan sekaligus potensi yang dapat dieksplorasi generasi muda agar arsitektur vernakular hadir sebagai wacana kontemporer.

Rifandi menambahkan, pengangkatan tema rumah Jawa ini berawal dari riset Pusat Dokumentasi Arsitektur yang menelusuri jejak arsitektur hunian di sekitar Borobudur. Seiring waktu, jumlah Omah Jawa di kawasan tersebut terus berkurang akibat modernisasi, terputusnya regenerasi pengetahuan, perubahan preferensi generasi muda, serta pergeseran sumber daya material dan lanskap. (hen)

Pos terkait