Kalimantan – Sikap seorang ajudan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjadi sorotan dalam aksi demonstrasi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim di depan Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (19/10/2026).
Ajudan tersebut diduga mendorong seorang demonstran ketika hendak menuju masjid. Insiden ini menjadi perhatian di tengah aksi massa yang menyuarakan tuntutan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta perlindungan anak dari dampak kabut asap.
Peristiwa tersebut memunculkan perhatian terhadap cara aparat maupun pihak yang mendampingi pejabat publik bersikap ketika berhadapan dengan masyarakat yang tengah menyampaikan aspirasi.
Dalam situasi demonstrasi, komunikasi dan pengendalian diri menjadi hal penting agar penyampaian pendapat dapat berlangsung tanpa memicu ketegangan. Setiap tindakan fisik terhadap demonstran, terlebih jika dilakukan oleh pihak yang berada di lingkungan pejabat publik, perlu dijelaskan secara terbuka agar duduk perkara kejadian menjadi jelas.
Di sisi lain, kronologi lengkap insiden tersebut, termasuk apa yang terjadi sebelum dugaan dorongan berlangsung, masih perlu dipastikan melalui keterangan saksi dan pihak-pihak yang terlibat.
Sikap Ajudan Jadi Perhatian Publik
Aksi TRC PPA Kaltim sendiri membawa isu serius, yakni penanganan karhutla dan dampak asap terhadap anak-anak. Karena itu, insiden yang melibatkan ajudan gubernur turut menyita perhatian di tengah penyampaian tuntutan tersebut.
Publik kini menantikan klarifikasi dari ajudan yang bersangkutan maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengenai kejadian itu.
Keterangan dari kedua pihak diperlukan untuk memastikan kronologi secara utuh sekaligus memberikan ruang bagi semua pihak untuk menjelaskan peristiwa tersebut.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan terverifikasi mengenai alasan terjadinya dugaan dorongan maupun tanggapan resmi dari pihak ajudan dan Gubernur Kalimantan Timur.






