Magelang News – Banyak pemuda Magelang, baik di kota maupun kabupaten, memilih pergi merantau ke kota besar atau daerah lain meskipun dinobatkan jadi salah satu tempat ternyaman untuk tinggal. Dari data BPS menunjukkan pada 2022 tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Magelang masih cukup tinggi, yaitu 4,97% (40.895 orang).
Sementara Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menyebutkan upaya kolaborasi lewat job fair berhasil menurunkan TPT Kota Magelang dari 8,59% (2020) menjadi 4,40% (2024). Namun sebagian pemuda masih mengeluhkan susahnya mendapat kerja sesuai kualifikasi. Bahkan Menteri Ketenagakerjaan RI menyoroti ada sekitar satu juta orang menganggur di Jawa Tengah, sehingga mendorong pemuda “segera berpikir ke luar negeri” untuk bekerja. Fenomena nasional ini mencerminkan betapa sulitnya lapangan kerja lokal dirasakan juga oleh generasi muda Magelang.
1. Lapangan Kerja Terbatas dan Upah Rendah
Para pemuda Magelang menyebut jumlah lapangan kerja lokal yang minim sebagai penyebab utama merantau. Upah minimum di Kabupaten Magelang 2024 tercatat hanya Rp2.316.890, sedangkan realitanya banyak pekerja pemula sulit mendapatkan gaji sebesar itu. Seorang penulis di Mojok bahkan mencatat betapa “gaji UMK tak sesuai realita di dunia kerja” hingga lulusan SMA kesulitan meraih upah Rp2 juta per bulan. Kondisi ini membuat banyak anak muda rela bekerja kasar atau keluar daerah untuk mendapat bayaran lebih baik.
Selain itu, tuntutan kualifikasi pekerjaan seringkali jadi kendala. Banyak perusahaan mensyaratkan ijazah S1 atau pengalaman kerja, sehingga lulusan SMA/SMK kesulitan bersaing. BPS mencatat 62,22% penganggur di Magelang adalah lulusan SMP ke bawah, menandakan dominasi tenaga kerja berpendidikan rendah di kalangan penganggur. Kurangnya lowongan untuk lulusan SMA/SMK dan persyaratan tinggi inilah yang memaksa sebagian generasi muda mencari kerja di luar daerah atau bahkan ke luar negeri.
2. Keterbatasan Pendidikan dan Pelatihan
Kualitas dan akses pendidikan tinggi juga menjadi pemicu merantau. Magelang belum memiliki banyak perguruan tinggi ternama. Seorang penulis Mojok mengungkap bahwa hampir setiap tahun banyak siswa Magelang lanjut kuliah ke Jogja, Semarang, atau kota besar lainnya, dan tidak kembali setelah lulus. Misalnya, kehadiran Universitas Tidar dianggap belum cukup prestise untuk menahan pemuda tetap di kota kelahiran. Kondisi serupa ditemukan pada pelatihan vokasi; meski Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Magelang membuka pelatihan gratis (termasuk program pra-magang Jepang), jumlah peserta terbatas. Kepala BLK Magelang Siti Rokhimah justru mengatakan hasilnya menggembirakan sebagian besar alumni pelatihan kini sudah bekerja atau berwirausaha. Namun secara umum, fasilitas pelatihan dan bimbingan karier masih harus diperluas agar lebih banyak pemuda terserap.
Gap antara dunia pendidikan dan industri menjadi masalah lain. BPS melaporkan adanya job mismatch: banyak lowongan kerja tidak sesuai minat atau kualifikasi pencari kerja. Artinya, meski ada peluang, pencari kerja memilih menunggu posisi yang tepat. Hal ini menunjukkan perlunya penyesuaian kurikulum pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan industri lokal agar lulusan lebih siap bekerja dan tidak ‘tunggu’ di kampung halaman.
3. Minimnya Hiburan dan Gaya Hidup Modern
Selain faktor ekonomi, aspek gaya hidup juga memengaruhi keputusan merantau. Magelang dikenal kota yang tenang dan lebih bersahaja, namun banyak pemuda merasa kurangnya fasilitas hiburan modern membuat mereka ingin mencoba kehidupan di kota besar. Pusat perbelanjaan dan rekreasi di Magelang masih terbatas. Dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah berencana membuka Mal “The Aloon-Aloon” di bekas Bioskop Magelang Theatre. Mal setinggi 15 lantai itu ditargetkan beroperasi terbatas November 2025 dan akan memuat area ritel, kuliner, dan bioskop XXI. Wali Kota Damar berharap proyek itu menjadi “ruang publik yang membanggakan” dan memperkuat citra Magelang sebagai kota perdagangan. Meski demikian, selama fasilitas modern seperti itu belum terbentuk sepenuhnya, anak muda kerap keluar kota untuk mencari hiburan dan pengalaman baru.
4. Upaya Pemerintah dan Tren Perbandingan
Pemerintah setempat menyadari tantangan ini dan job fair rutin digelar oleh Pemkot/Pemkab untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. Disnaker mengembangkan layanan antar-kerja lokal (AKAL) dan antar-daerah (AKAD) untuk memudahkan penempatan. Di sisi pendidikan, kolaborasi sekolah dengan dunia usaha mulai digalakkan. BPS mencatat, upaya bersama ini mulai menunjukkan hasil penurunan pengangguran di Magelang sejalan dengan tren penurunan di Jawa Tengah (dari 8,59% menjadi 4,40% dalam lima tahun). Meski begitu, fenomena merantau bukan hanya persoalan Magelang. Di daerah serupa, misalnya Wonosobo, anak muda juga menyebut keterbatasan lapangan kerja dan sulitnya membuka usaha di desa sebagai alasan merantau.
5. Tekanan Sosial di Kampung
Alasan kuat mengapa banyak anak muda memilih pergi. Di desa-desa, pertanyaan seperti “kapan lulus?”, “kerja di mana sekarang?”, hingga “calonnya sudah ada belum?” kerap dilontarkan oleh tetangga atau kerabat, sering kali dengan nada yang terkesan ringan tapi dampaknya dalam, pertanyaan seperti itu bisa terasa menyakitkan dan memicu stres sosial.
Budaya basa-basi yang “basi” ini memang menjadi persoalan laten. Alih-alih menciptakan ruang aman dan suportif, lingkungan desa kerap memunculkan tekanan sosial terselubung.






