Jakarta, 23 Oktober 2025 – Film dokumenter Planet of Love resmi melangsungkan World Premiere di ajang Jakarta Film Week 2025, Kamis (23/10/2025) pukul 17.00 WIB, bertempat di CGV Grand Indonesia, Teater 3.
Suasana pemutaran perdana berlangsung hangat dan penuh haru. Ruang teater nyaris penuh oleh penonton dari berbagai kalangan mulai dari keluarga tim film, pegiat isu anak dan pendidikan, hingga aktivis serta mitra lembaga yang selama ini mendukung perjalanan Planet of Love.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Dian Sasmita (Komisioner KPAI), perwakilan dari ASEAN Studies Center UGM, Kitabisa, Hartini Rahayu dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Meirinda Sebayang (Direktur Jaringan Indonesia Positif), serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Lahir dari Ketulusan dan Keberanian
Sang sutradara dan produser, Ika Wulandari, mengungkapkan bahwa Planet of Love lahir dari perjalanan panjang yang dipenuhi ketulusan dan keberanian.
Seluruh proses pembuatan film dilakukan secara sukarela, tanpa satu pun kru menerima bayaran. Ika bahkan memulai proyek ini dengan meminjam kamera dan mengandalkan bantuan teman ke teman lainnya perjalanan sederhana namun sarat makna.
“Kami ingin penonton tidak hanya menyaksikan kisah mereka, tetapi juga merasakan kedalaman cinta yang membuat anak-anak ini bertahan di tengah stigma. Film ini bukan tentang belas kasihan, tetapi tentang keberanian untuk mencintai dengan jujur dan apa adanya,” ungkap Ika dengan penuh haru.
Film ini juga menjadi salah satu karya terakhir mendiang John Badalu, yang turut berperan sebagai produser. Komitmen dan visinya terhadap sinema yang berpihak pada kemanusiaan menjadi fondasi penting dalam perjalanan film ini hingga ke layar perdana.
Dari Film Menjadi Gerakan Sosial
Sementara itu, Putri Rakhmadhani, selaku Impact Producer, menegaskan bahwa Planet of Love tidak berhenti di ruang pemutaran film, tetapi berkembang menjadi sebuah gerakan sosial.
“Kami bersyukur film ini membuka ruang dialog dan gerakan nyata lewat Network of Love distribusi impact yang melibatkan banyak pihak untuk menebarkan nilai keberanian, empati, dan kepedulian,” ujarnya.
Planet of Love merekam kisah nyata anak-anak dengan HIV/AIDS, yang tergolong dalam disabilitas tak tampak (invisible disabilities) kondisi kesehatan yang tidak selalu terlihat secara fisik, namun berdampak besar pada keseharian, akses pendidikan, dan penerimaan sosial.
Melalui gerakan Network of Love, tim Planet of Love berupaya memperluas nilai-nilai inklusi sosial dan meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dengan HIV dan disabilitas tak tampak lainnya.
“Planet of Love bukan hanya film,” lanjut Putri, “tetapi perjalanan bersama untuk menumbuhkan keberanian mencintai dan berani peduli.”







