Masih Ingat “Hompimpa Alaium Gambreng”? Ternyata Ada Makna Filosofis di Balik Ucapan Masa Kecil Ini

MAGELANG – Bagi anak-anak yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, mungkin ada satu kalimat yang begitu akrab di telinga: “Hompimpa alaium gambreng!”

Kalimat itu biasanya terdengar ketika anak-anak hendak memulai permainan. Mereka berdiri melingkar, mengulurkan tangan, lalu bersama-sama membolak-balikkan telapak tangan.

Bacaan Lainnya

Siapa yang berbeda sendiri, bisa menjadi pemenang atau justru tersingkir, tergantung kesepakatan permainan.

Sederhana sekali.

Namun, di balik sebuah kalimat yang dulu diucapkan sambil tertawa dan bermain, ternyata terdapat kisah dan tafsir filosofis yang menarik.

“Dari Tuhan Kembali ke Tuhan, Ayo Bermain”

Sejumlah sumber populer menyebut “Hompimpa Alaium Gambreng” berasal dari bahasa Sanskerta dan memiliki makna “Dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo bermain.”

Makna ini kemudian sering ditafsirkan sebagai pesan filosofis bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan. Sementara kata “ayo bermain” menjadi ajakan untuk menikmati kehidupan dengan penuh kegembiraan.

Dengan kata lain, permainan anak-anak yang tampaknya sederhana ternyata dapat dimaknai sebagai pengingat tentang kehidupan.

Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.

Kemudian menjalani kehidupan dengan berbagai pengalaman.

Ada yang menang.

Ada yang kalah.

Ada yang berada di atas.

Ada pula yang harus menerima keadaan di bawah.

Namun pada akhirnya, semuanya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa klaim mengenai asal-usul Sanskerta dan terjemahan tersebut belum memiliki bukti sejarah dan linguistik yang benar-benar kuat. Sejumlah media menyebutnya sebagai makna yang populer beredar, sementara asal-usul pasti kalimat tersebut masih sulit dilacak dalam literatur sejarah. (detikcom)

Dari Permainan, Anak-anak Belajar Menerima Kekalahan

Ada filosofi lain yang tak kalah menarik.

Ketika melakukan hompimpa, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan akan menang atau kalah.

Tangan yang sama-sama diayunkan, tetapi hasil akhirnya bisa berbeda.

Di situlah anak-anak secara tidak langsung belajar menerima keputusan.

Ketika kalah, mereka harus menerima.

Ketika menang, mereka tidak boleh berlebihan.

Ketika mendapat giliran menjadi penjaga dalam permainan petak umpet, mereka harus menjalankan peran.

Tidak ada tombol restart.

Tidak ada kesempatan untuk mengulang hanya karena hasilnya tidak sesuai keinginan.

Semuanya diterima sebagai bagian dari permainan.

Mungkin tanpa disadari, hompimpa mengajarkan anak-anak tentang keadilan, kesepakatan, sportivitas, dan menerima hasil dengan lapang dada.

Lalu, Apa Hubungannya dengan “Si Until”?

Di tengah masyarakat, mungkin ada yang mengingat versi lain dari ucapan hompimpa yang terdengar seperti “Si Until” atau kalimat tambahan lainnya.

Namun, dalam penelusuran yang ditemukan, variasi yang lebih banyak dicatat dalam sumber populer adalah versi Betawi:

“Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng.”

Kalimat tambahan tersebut lebih dikenal sebagai bagian dari variasi permainan atau ucapan anak-anak di wilayah tertentu, bukan bagian dari terjemahan utama “Hompimpa Alaium Gambreng”. (Liputan6.com)

Hal ini menunjukkan bahwa permainan tradisional sering berkembang melalui tradisi lisan. Dari satu daerah ke daerah lain, bunyi, pengucapan, bahkan kalimat tambahan bisa berubah mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.

Karena diwariskan dari mulut ke mulut, sangat mungkin setiap daerah memiliki versi yang berbeda.

Sebuah Tradisi yang Perlahan Hilang

Dulu, anak-anak tidak membutuhkan telepon pintar untuk merasa bahagia.

Sore hari adalah waktu untuk keluar rumah.

Bermain petak umpet.

Petak jongkok.

Bentengan.

Kelereng.

Lompat tali.

Gobak sodor.

Sebelum permainan dimulai, satu hal yang harus dilakukan adalah menentukan siapa yang menjadi penjaga atau siapa yang mendapat giliran pertama.

Dan biasanya, semua berakhir dengan satu kalimat:

“Hompimpa alaium gambreng!”

Kini, pemandangan seperti itu semakin jarang ditemukan.

Sebagian anak lebih akrab dengan layar ponsel daripada tanah lapang. Permainan yang dulu membuat anak-anak berlari dan berkeringat kini banyak digantikan oleh permainan digital.

Namun, hompimpa bukan sekadar cara menentukan siapa yang menang dan kalah.

Ia adalah bagian dari memori masa kecil.

Sebuah tradisi sederhana yang mengajarkan bahwa hidup memiliki giliran.

Kadang kita menang.

Kadang kita kalah.

Kadang kita harus menunggu.

Dan terkadang kita hanya perlu menerima hasilnya, lalu kembali bermain bersama.

Mungkin itulah filosofi paling sederhana dari hompimpa.

Hidup adalah permainan yang tidak selalu bisa kita tentukan hasilnya. Yang terpenting bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana kita menjalani setiap giliran dengan tetap menjaga kebersamaan.

Dan bagi generasi yang pernah mengalaminya, satu kalimat itu akan selalu membawa kita kembali pada masa ketika kebahagiaan terasa begitu sederhana:

“Hompimpa alaium gambreng!”

Sebuah ucapan yang mungkin tidak lagi sering terdengar.

Tetapi sekali diucapkan, kenangan masa kecil seolah kembali pulang.

Pos terkait