Mahasiswa KKN MIT DR ke – XI Adakan Podcast Problematika Pendidikan

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

SEMARANG – Mahasiswa KKN Mandiri Inisiatif Terprogram Dari Rumah (MIT DR) ke XI, khususnya kelompok 43 mengadakan salah satu kegiatan bincang santai atau tanya jawab yang terangkum dalam kegiatan podcast pada Rabu, 3 Februari 2021 di MI Miftahul Akhlaqiyah Beringin. Tidak lepas dari program kerja yang diusung kelompok 43 selama KKN berlangsung, tema yang diambil yaitu “Problematika Pendidikan Islam di Indonesia” dengan narasumber Bapak DR. H. Ismail SM, M. Ag., yang merupakan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang.

“Melihat dari latar belakang problematika pendidikan islam di Indonesia itu banyak, misalkan ada dikotomi ilmu, pendidikan karakter yang kurang, dan lain – lain, nah dengan adanya podcast tema Problematika Pendidikan Islam di Indonesia ini diharapkan dapat membantu kita sebagai calon pendidik, calon ibu dan bapak yang akan menjadi pendidik atau madrasah paling pertama untuk anak – anak kita untuk menghindari atau menanggulangi problem – problem tersebut.”, ujar host podcast kelompok 43, Gita Cahya Ari Sandi, saat dimintai keterangan tentang alasan mengadakan podcast tersebut.

Dikotomi ilmu, salah satu problematika pendidikan islam di Indonesia, menurut Gita Cahya adalah pemisahan antara ilmu umun dan ilmu agama. “Jadi masalah yang terjadi saat ini itu kebanyakan berupa tidak adanya kaitan antara ilmu umum dan ilmu agama, padahal Gus Baha’ sendiri sudah mengungkapkan bahwa pemisahan jenjang SD – MI, SMP – MTs, itu hanya sebagai pengelompokan, bukan untuk pemisah. Jadi pada dasarnya ilmu umum dan ilmu agama itu berasal dari Allah SWT seperti halnya dalam QS Al Mujadalah ayat 11, dimana Allah SWT akan mengangkat derajatnya orang mukmin yaitu orang yang menyatukan ilmu. Intinya, ilmu umum dan ilmu agama itu ada kaitannya, karena semuanya kembali dan bersumber dari Allah, dan hal tersebut harus ditanamkan sejak dini agar dapat mengurangi dikotomi ilmu.”, tambah Gita Cahya.

Menurut Putri Amalia Solikhah, salah satu mahasiswa KKN MIT DR kelompok 43 menyimpulkan bahwa untuk mengatasi problematika pendidikan islam di Indonesia perlu atau wajib bersinergi antara peran orang tua, guru atau pendidik, dan tokoh masyarakat. Menyelesaikan problem – problem yang ada juga butuh sinergi antara pendidikan formal seperti di sekolah atau madrasah atau pesantren dengan pendidikan non formal seperti di masyarakat, keluarga, TPQ, dan lain – lain. Adanya sinergi akan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan islam yang dapat membentuk generasi islami, generasi qur’ani, dan dapat membantu pemerintah dalam mencapai pendidikan nasional karena pendidikan islam itu bagian dari pendidikan nasional.

Pos terkait