Plagiarisme dan Eksistensi Serial Luar Negeri di Indonesia

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Fenomena budaya barat dan korea semakin meraja lela di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Dari mulai pakaian, gaya hidup, musik, film atau serial dan masih banyak lagi. Yang akan kita bahas pada topik kali ini terkhususkan pada bidang perfilman, dari tahun ke tahun banyak film dan serial baru bermunculan. Adanya kemudahan untuk mengakses film dan serial luar negeri, semakin menambah masyarakat menjadi gemar menonton, terutama pada masa pandemi Covid-19 yang membatasi masyarakat untuk menonton film melalui bioskop. Aplikasi untuk menonton film atau serial secara online pun semakin menjamur, seperti Netflix, WeTV, Iqiyi, VIU, Disney Hotstar dan masih banyak lagi.
Dalam pembahasan kali ini akan membahas tentang serial luar negeri yang akhir-akhir yang sedang ramai diperbincangkan yaitu serial Squid Game, serial ini berasal dari Korea Selatan dan ditayangkan di aplikasi Netflix pada bulan September 2021 lalu. Serial ini pun sempat menjadi urutan pertama serial yang paling sering ditonton di chart Netflix khususnya di negara Indonesia. Serial Squid Game ini menceritakan tentang suatu game yang harus diikuti oleh beberapa orang yang sudah bersedia bergabung dan jika berhasil melewati serta memainkan permainan tersebut, maka akan ada hadiah berupa uang yang didapatkan. Dalam serial Squid Game ini mengangkat tema permainan lokal negara Korea Selatan. Ramainya serial Squid Game ini ternyata mengakibatkan adanya plagiarisme yang terjadi di Indonesia. Yaitu adanya satu sinetron Indonesia yang menjiplak serial tersebut, yaitu sinetron Dari Jendela SMP yang tayang di SCTV.
Dalam sinetron ini ‘Squid Game’ diganti menjadi ‘Dolanan Game’, konsep dari game tersebut dirasa mirip dengan serial Squid Game, dalam scene sinetron tersebut juga menggunakan kostum olahraga traning dengan penambahan angka dan penjaga dalam game tersebut juga menggunakan topeng, walaupun dalam scene Dolanan Game tersebut dikemas menjadi lebih lokal tetapi tetap saja masyarakat menyadari bahwa scene tersebut menjiplak scene yang ada di serial Squid Game.
Plagiarisme bukanlah sesuatu hal yang bisa dinormalisasikan, seharusnya para produser dan penulis naskah sinetron Indonesia bisa lebih kreatif dalam membuat suatu cerita. Hal seperti inilah yang membuat masyarakat Indonesia lebih suka menonton serial barat dan Korea, dibandingkan menonton sinetron Indonesia yang tayang di televisi. Sebenarnya tidak semua serial Indonesia seperti itu, ada juga serial yang berkualitas seperti serial Little Mom, Antares, Teluk Alaska dan masih banyak lagi. Namun sering kali jarang dilirik oleh masyarakat karena biasanya ditayangkan di platform yang berbayar seperti Iflix, Vidio, atau WeTV. Padahal serial tersebut memiliki jalan cerita yang bagus, sinematik dan hanya memiliki belasan episode saja. Sedangkan sinetron Indonesia yang tayang di televisi mempunyai banyak episode, bahkan ada yang sampai mencapai ribuan episode. Maka jalan ceritanya cenderung bertele-tele, tidak seperti serial drama korea atau serial barat yang hanya mempunyai 8 sampai 16 episode. Jalan ceritanya pun dikemas dengan baik dan tidak bertele-tele. Hal plus inilah yang dirasa menjadi ketertarikan tersendiri dalam menonton serial barat dan korea.
Hal seperti ini sangatlah disayangkan, seharusnya dunia persinetronan dan juga film di Indonesia bisa lebih kreatif dan berkembang dalam membuat suatu alur cerita. Mungkin dunia perfilman dan persinetronan Indonesia bisa terinspirasi dengan membuat sinteron yang hanya memiliki beberapa episode saja, cerita bisa dibuat secara ringkas dan menarik namun semua pesan dan alur ceritanya bisa disampaikan dengan baik. Begitu pula dengan cara menggandeng aktris dan aktor yang digemari oleh masyarakat untuk memerankan sinetron tersebut. Mungkin juga bisa memilih genre seperti romansa dan juga genre lain yang sedang digemari oleh masyarakat, contohnya seperti genre action.

Pos terkait