Obesitas Abdominal dan Dislipidemia

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

OBESITAS ABDOMINAL DAN DISLIPIDEMIA.

Gaya hidup dan perilaku penduduk memainkan peran penting dalam menentukan kesehatan, penyakit, kecacatan dan kematian dini. Data menunjukkan bahwa program intervensi gaya hidup 1 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik dan meningkatkan kualitas diet memiliki dampak yang menguntungkan pada beberapa faktor risiko kardiometabolik pada pria dengan obesitas abdominal dan dislipidemia. Salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia adalah obesitas. Obesitas sendiri terjadi akibat dari adanya timbunan lemak di dalam tubuh yang berlebih. Menurut data WHO sebanyak 52% penduduk yang berusia 18 tahun keatas mengalami obesitas atau kegemukan, tidak hanya itu obesitas di kalangan anak-anak dan remaja juga serta dewasa meningkat setiap tahunnya.

Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi dan pengeluaran energi makanan pada individu yang sebelumnya sehat, dengan gaya hidup sedentary dan asupan kalori yang berlebihan sebagai determinan utama. Obesitas sering terjadi penumpukan lemak di area perut. Obesitas abdominal merupakan keadaan akumulasi lemak yang berlebihan di perut. Lingkar pinggang merupakan penanda penting yang biasa digunakan untuk menentukan obesitas perut. Obesitas ditentukan berdasarkan BMI dan lingkar pinggang. Rentang BMI yang diadopsi adalah : norma (18,5-24,9), kelebihan berat badan (25-29,9) dan obesitas (≥30). Banyak faktor yang menyebabkan obesitas salah satunya faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan seperti kelebihannya asupan kalori setiap harinya, kurangnya aktivitas fisik, tingkat stress dan lain sebagainnya. Seiring dengan peningkatan obesitas di masyarakat, kejadian penyakit terkait obesitas seperti hipertenssi, diabetes, sindrom metabolic dan dyslipidemia juga meningkat pesat. Yang paling sering dibahas adalah mengenai obesitas yang berhubungan dengan penyakit dislipidemia.

Data menunjukkan bahwa program intervensi gaya hidup 1 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik dan meningkatkan kualitas diet memiliki dampak yang menguntungkan pada beberapa faktor risiko kardiometabolik pada pria dengan obesitas abdominal dan dislipidemia. Dislipidemia adalah suatu keadaan ketika tingkat High Density Lipoprotein (HDL-c), 50 mg/dL dan tingkat trigliserida adalah ≥ 150 mg/dL. Dislipidemia sendiri memiliki hubungan dengan usia, kebiasaan makan, tekanan darah, aktivitas, aktivitas fisik, stress dan faktor keturunan serta obesitas. Perbaikan dari gaya hidup seperti pola makan diperlukan untuk mencegah dislipidemia.

Dislipidemia menjadi permasalahan yang sangat besar mengakibatkan morbiditas dan mortalitas. Menurut WHO pada tahun 2002, dislipidemia secara global menyumbang 18% dan 56% dari penyakit jantung iskemik (IHD) dan stroke dan lebih dari empat juta kematian per tahun. Faktor signifikan dari dislipidemia terjadi karena penduduk-perkotaan, pertambahan usia, kurangnya aktivitas fisik, kelebihan berat badan dan obesitas, obesitas abdominal, sering puasa konsumsi makanan dan konsumsi buah dan sayur rendah. Hubungan yang signifikan antara obesitas abdominal dan semua jenis dislipidemia juga dilaporkan. Orang berisiko mengalami obesitas abdominal yang lebih tinggi, yaitu IMT nya lebih kecil tetapi LPe nya tinggi 4 berisiko tinggi pula mengalami dislipidemia.

Dislipidemia sendiri memiliki hubungan dengan usia, kebiasaan makan, tekanan darah, aktivitas fisik, stress dan faktor keturunan serta obesitas. Perbaikan dari gaya hidup seperti pola makan diperlukan untuk mencegah dislipidemia. Hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan berat badan terdeteksi dengan proporsi yang lebih. Hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan berat badan terdeteksi dengan proporsi yang lebih tinggi dari hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia dan peningkatan LDL antara obesitas dan kelebihan berat badan. Hubungan yang signifikan antara obesitas abdominal dan semua jenis dislipidemia.

Obesitas adalah penyebab utama dislipidemia. Kelebihan berat badan, obesitas dan obesitas sentral sebagai faktor risiko yang signifikan dari dislipidemia. Dislipidemia terkait obesitas bersifat aterogenik karena individu obesitas telah meningkatkan partikel LDL kecil dan padat aterogenik dan peningkatan kadar apolipoprotein B. Obesitas memiliki kaitan dengan asupan cepat saji, minuman manis dan cemilan yang tidak sehat seperti mengandung lemak yang tinggi dan gula selain natrium. Lemak sendiri merupakan sumber utama kalori serta asam lemak esensial dan larut dalam lemak. Namun asupan lemak yang berlebih juga akan menimbulkan berbagai penyakit degeneratif salah satunya dislipidemia.

Referensi

Boyer, M., Mitchell, P. L., Poirier, P., Alméras, N., Tremblay, A., Bergeron, J., Després, J., & Arsenault, B. J. (2018). Impact Of A One-Year Lifestyle Modification Program On Cholesterol Efflux Capacities In Men With Abdominal Obesity And Dyslipidemia. American Journal Of Physiology-Endocrinology And Metabolism, 315(4), E460- E468. Https://Doi.Org/10.1152/Ajpendo.00127.2018

Maria F. B. R. G., Carlos E. M. R., Kirla W. P. G., Carla J. M., Claiton V. B., Susana F. K., Nicole P. B. A., And Adriana M. K. (2019). High Prevalence Of Obesity In Rheumatoid Arthritis Patients: Association With Disease Activity, Hypertension, Dyslipidemia, And Diabetes, A MultiCenter Study. Advances In Rheumatology, 1-9

Wahed, W. Y. A., El-Khashab, K., & Hassan, S. K. (2016). Prevalence Of Dyslipidemia Among Healthy University Students: Fayoum Governorate, Egypt. Epidemiology, Biostatistics And Public Health, 13(2)

Pos terkait