Berbagai hal telah berubah termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Seiring dengan berkembangnya zaman, berbagai perkembangan tersebut menuntun manusia ke dalam salah satu kemudahan dalam mengakses makanan tanpa perlu datang ke toko, hanya dengan mengakses aplikasi yang sudah ada.
Disamping kemudahan yang didapatkan, terdapat efek samping yang membuat manusia tidak perlu repot mendatangi toko, maka makanan akan datang dengan sendirinya diantarkan oleh pihak ketiga, hal ini lah yang memperbesar resiko para anak mengalami obesitas dan jika dibiarkan serta tidak ditangani dengan baik akan menuntun pada sindrom metabolik.
Dengan segala kemudahan yang didapatkan, menurut data dari WHO (2016) didapati bahwa penderita obesitas (orang bertubuh gemuk) di dunia mencapai 650 juta orang dan 2 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan serta anak dibawah umur 5 tahun sebanyak 41 juta, sedangkan 340 juta anak dan remaja dengan rentang usia 5 hingga 19 tahun mengalami obesitas.
Sedangkan menurut penelitian dalam jurnal Metabolic Syndrome in Obese Children-Clinical Prevalence and Risk, faktor yang dilakukan Jankowska et all (2021) menyatakan bahwa 12,9 % anak dengan obesitas yang berusia 9 – 12 tahun berpartisipasi dalam “6-10-14 untuk kesehatan”, didapatkan hasil diagnosis bahwa 10,9 % anak perempuan mengalami sindrom metabolik dan 14,6 % lainnya diderita oleh anak laki-laki.
Obesitas atau orang bertubuh gemuk merupakan keadaan dimana akumulasi dari jaringan lemak yang berlebih, hal ini memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan anak (Abdulla et all). Obesitas dalam kehidupan sehari-hari sering kaki dikaitkan dengan orang yang bertubuh gemuk. Obesitas pada anak meningkatkan resiko anak mengalami sindrom metabolik pada saat remaja jika pencegahan (profilaksis) dan penanganan yang serius dan tepat untuk menghentikannya.
Sindrom metabolik merupakan keadaan akibat dari obesitas, diantaranya seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, aterosklerosis, diabetes melitus dan juga banyak komplikasi lainnya (Jankowska et all, 2021). Dari fakta yang terjadi lebih dari 100 juta anak-anak di seluruh dunia mengalami obesitas termasuk daerah berkembang yang lebih sering dikaitkan dengan faktor makanan. Kecenderungan anak lebih menyukai makanan fast food dibanding makanan dengan gizi yang seimbang merupakan faktor yang erat terhadap banyaknya anak-anak yang mengalami obesitas yang akan berpengaruh pada terjadinya sindrom metabolik. Selain itu sindrom metabolik bukan hanya dapat memprediksi penyakit kardiovaskuler namun juga merupakan prediktor diabetes tipe 2 pada anak-anak di masa depan.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak, kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan mengonsumsi makanan miskin gizi seperti makanan cepat saji, camilan, dan minuman manis yang tinggi kandungan gula dan lemaknya, serta adanya intoleransi glukosa yang disertai dengan resistensi insulin.
Sedangkan faktor risiko yang mempengaruhi terjadi sindrom metabolik pada anak adalah massa tubuh saat lahir, jenis kelamin, serta faktor genetik yang merupakan faktor resiko yang tidak dapat diubah, sedangkan faktor yang dapat diubah meliputi gaya hidup, aktivitas fisik, serta mengonsumsi makanan sehat yang teratur atau nutrisi rasional (Jankowska et all, 2021).
Dalam mendiagnosis obesitas pada anak digunakan persentil grafik. Dengan hasil persentil BMI > 95 didiagnosis sebagai obesitas, sedangkan kegemukan atau overweight presentil > 85, berbagai penulis menyatakan bahwa anak dengan BMI di atas (persentil ke 75) akan memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi karena adanya diabetes melitus tipe 2 dan Covid-19 di masa dewasa. Selain BMI, untuk anak di bawah 10 tahun dapat pula dilakukan dengan hasil pengukuran lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang panggul, lingkar pinggang > 90 cm dan rasio lingkar pinggang panggul untuk perempuan yaitu > 0.8 serta untuk laki-laki > 0.9 (Jankowska et all, 2021).
Sedangkan dalam diagnosis sindrom metabolik pada anak dapat dilakukan berdasarkan IDF, diantaranya:
- Lingkar pinggang > 90 cm;
- Kadar HDL < 40 mg/dL;
- Kadar glikemia > 100 mg/dL;
- Tekanan darah > 130/85 mmHg (Jankowska et all, 2021).
Dalam hal ini dibutuhkan intervensi untuk mengubah gaya hidup tidak sehat yang menjadi penyebab terbesar sindrom metabolik, seperti mengubah pola makan yang sehat dan bergizi dengan meningkatkan konsumsi sayur serta buah untuk mengurangi konsumsi lemak jenuh. Perubahan aktivitas fisik juga dibutuhkan dengan peningkatan aktivitas fisik guna mempertahankan kesetimbangan metabolisme tubuh. Hal ini menjadi upaya dalam pencegahan peningkatan prevalensi sindrom metabolik pada anak-anak di masa depan. Selain itu, dorongan dan dukungan keluarga untuk mempertahankan konsumsi makanan segar dan menghindari makanan padat energi juga dibutuhkan untuk membiasakan anak menjadi pribadi yang lebih sehat sehingga terhindar dari adanya obesitas dan sindrom metabolik.
Daftar Pustaka :
DeBoer, Mark D. (2019). Assessing and Managing the Metabolic Syndrome in Children and Adolescents. Nutrients Journal, 11 (1788).
Jankowska, A, et al. (2021). Metabolic Syndrome in Obese Children-Clinical Prevalence and Risk Factors. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(1060).
Vélez, Robinson Ramírez et al. (2017). Cycling to School and Body Composition, Physical Fitness, and Metabolic Syndrome in Children and Adolescents. The Journal of Pediatrics, 188, 57–63.







