ADAKAH HUBUNGAN STATUS GIZI DEWASA DENGAN SINDROMA METABOLIK?
Fiky Dwi Ardillah1, Nella Adhela Marbun2, Muhamad Syafi’i Zamzami3, Dewi Kemuning4
Mahasiswa Prodi Gizi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo
Sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko kardiovaskular yang saling terkait termasuk obesitas, dislipidemia, hipertensi, dan glukosa darah tinggi. Prevalensi sindrom metabolik meningkat khususnya di negara – negara berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki prevalensi tinggi terhadap kekurangan gizi.
Dengan perkembangan sosial ekonomi yang pesat, taraf hidup meningkat, dan pola penyakit juga berubah secara signifikan karena ketidakseimbangan asupan gizi dan penurunan jumlah aktivitas fisik karena gaya hidup yang kebarat – baratan menurut survei pemeriksaan kesehatan dan gizi nasional korean, obesitas 31,5%, tekanan darah tinggi 28,9%, hiperkolesterolemia 15,7%, diabetes 11,1%.
Dalam urutan prevalensi terlihat dimana suatu ketika faktor resiko metabolic seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, dan dyslipidemia terjadi secara bersamaan pada satu orang, itu disebut sindroma metabolic dan diketahui dapat meningkatkan penyakit kardiovaskular.
Faktor yang menyebabkan sindrom metabolik adalah faktor postur pendek, obesitas sentral, kemungkinan diabetes dan penyakit kardio metabolik BBLR dan panjang kaki sedang dan rendah secara independen terkait dengan prevalensi terjadinya sindrom metabolik yang lebih tinggi pada wanita. Namun, di antara pria, hanya panjang kaki relatif sedang dan rendah yang dikaitkan dengan sindrom metabolik.
Pada bayi baru lahir BBLR memiliki dua resiko sindrom metabolik empat kali lipat lebih besar dalam kehidupan dewasa, pembatasan nutrisi selama kehamilan dan masa anak – anak memiliki konsekuensi jangka panjang pada perubahan metabolisme, orang dengan obesitas perut (dengan demikian lebih mungkin mengalami sindrom metabolik) BBLR dan panjang kaki relatif rendah, dapat menyebabkan perubahan metabolisme di masa dewasa.
Dimana dapat diketahui obesitas dan sindrom metabolik adalah penyebab utama penyakit kronis dan kematian di seluruh dunia. Dimana periode umur 5-7 tahun yang sering kali mengalami obesitas, itu dikarenakan lintasan pertumbuhan anak – anak dengan orang tua obesitas berbeda dari anak – anak yang memiliki orang tua dengan berat badan normal dan pada anak – anak memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi kelebihan berat badan atau obesitas, mungkin karena kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Alasan di balik perbedaan jenis kelamin dapat dijelaskan oleh pola pertumbuhan yang berbeda pada anak laki – laki dan perempuan. Selain itu, lingkungan dapat lebih kuat mempengaruhi pertumbuhan pada anak laki – laki dari pada anak perempuan. Pada pria, waktu anak remaja tidak terkait dengan salah satu faktor risiko kardiometabolik yang dinilai (yaitu, trigliserida, kolesterol HDL dan LDL, glikemia puasa, tekanan sistolik dan diastolik).
Hubungan antara usia saat anak remaja dan kelebihan berat badan di kemudian hari, studi tentang hubungan dengan faktor risiko kardiometabolik jangka panjang jarang terjadi, terutama di masa dewasa. Satu studi yang tidak melakukan analisis spesifik jenis kelamin menunjukkan bahwa anak remaja yang terjadi pada usia lebih dini dikaitkan dengan trigliserida dan kadar glukosa darah yang lebih tinggi di masa dewasa. Anak remaja awal awal dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik di masa dewasa baik pada pria maupun wanita.
Dalam literatur, adipositas rebound (AR)adalahperiodeanak pada usia 5 sampai 7 tahun yang beriskomengalamiobesitas, yang terjadi kemudian memiliki efek perlindungan pada risiko sindrom metabolik dewasa ketika mempertimbangkan kofaktor dewasa dan awal kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Briskiewicz, B. L., Barreto, S. M., do Amaral, J. F., Diniz, M. D. F. H. S., Molina, M. D. C. B., Matos, S. M. A., … &Giatti, L. (2018). Early-life nutritional status and metabolic syndrome: gender-specific associations from a cross-sectional analysis of the Brazilian Longitudinal Study of Adult Health (ELSA-Brasil). Public health nutrition, 21(8), 1546-1553.
Péneau, S., González-Carrascosa, R., Gusto, G., Goxe, D., Lantieri, O., Fezeu, L., … & Rolland-Cachera, M. F. (2016). Age at adiposity rebound: determinants and association with nutritional status and the metabolic syndrome at adulthood. International journal of obesity, 40(7), 1150-1156.
Kim, G. R., Park, H. R., Lee, Y. M., Lim, Y. S., & Song, K. H. (2017). Comparative study on prevalence and components of metabolic syndrome and nutritional status by occupation and gender: Based on the 2013 Korea national health and nutrition examination survey. Journal of Nutrition and Health, 50(1), 74-84.
Black RE, Victora CG, Bhutta WSPZ dkk. (2013) Kurang gizi dan kelebihanberat badan pada ibu dan anak di negara berpenghasilanrendah dan menengah. Lanset 38, 427–451.
Silveira VMF & Horta BL (2008) Peso aonascer dan síndromemetabólicaemadultos: metaanálise. Rev Saude Publica 42, 10–18.







