Obesitas merupakan masalah kesehatan yang belakangan ini meningkat di seluruh dunia. Obesitas erat kaitannya dengan terjadinya penambahan berat badan. Dimana hal ini terjadi karena respons tubuh yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Obesitas ini merupakan suatu keadaan kelebihan berat badan yang diakibatkan oleh penumpukan jaringan lemak pada tubuh karena terjadinya ketidakseimbangan antara makanan yang diasup dan energi yang dikeluarkan. Obesitas yang terjadi di daerah perut dinamakan sebagai obesitas abdominal. Obesitas abdominal menyebabkan penderitanya memiliki perut buncit dengan lingkar pinggang > 90 cm untuk pria dan > 80 cm untuk wanita.
Obesitas dikaitkan dengan banyak kondisi kesehatan. Beberapa indikator antropometri dapat digunakan untuk mendefinisikan obesitas dan juga membantu mengidentifikasi individu atau populasi yang berisiko spesifik terhadap beragam masalah kesehatan. Terdapat banyak indikator antropometri penentu obesitas yang ada diantaranya indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, rasio pinggang-panggul, dan rasio pinggang-tinggi. Indikator ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik yang penting, seperti gangguan metabolisme glukosa, hipertensi (HT), resistensi insulin, sindrom metabolik, dan dislipidemia. Namun, yang akan dibahas lebih lanjut adalah mengenai kaitan atau hubungan antara obesitas abdominal dan disiplidemia.
Dislipidemia merupakan kondisi dimana kandungan kadar lemak dalam darah yang tidak normal baik terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Terjadinya dislipidemia dalam tubuh dapat disebabkan oleh adanya obesitas. Dislipidemia dapat ditandai dengan adanya peningkatan kolesterol total, LDL, trigliserida, atau bahkan disertai dengan penurunan HDL kolesterol dalam tubuh. Obesitas abdominal adalah obesitas yang terjadi daerah perut yang erat kaitannya dengan risiko terjadinya dislipidemia pada tubuh. Obesitas berkaitan erat dengan dislipidemia karena didorong juga oleh efek resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan adalah hubungan yang paling mungkin terjadi antara obesitas dan dislipidemia. Jika dilihat berdasarkan studi yang telah sebelumnya, menunjukan bahwa obesitas abdominal dapat menyebabkan keadaan resistensi insulin, ditandai dengan respon yang rusak dan buruk terhadap insulin di jaringan perifer (jaringan muskuloskeletal, hati, dan jaringan adiposa) dan mengakibatkan perubahan pengambilan dan pemanfaatan glukosa. Resistensi insulin atau hiperinsulinemia adalah gangguan metabolisme yang paling umum pada obesitas dan merupakan faktor pendorong utama dibalik perkembangan dislipidemia yang terjadi dalam tubuh.
Resistensi insulin adalah keadaan yang ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik akibat adanya gangguan dalam merespons insulin. Insulin menekan lipolisis di jaringan adipose dengan penghambatan hormone-sensitife lipase (HSL), sehingga mengontrol pelepasan asam lemak bebas ke dalam sirkulasi. Dalam beberapa tahun terakhir ditemukan bentuk dislipidemia yang timbul dari kerja sama antara resistensi insulin dan obesitas yang dikenal dengan “dyslipidemia metabolic”. Resistensi insulin dan dislipidemia metabolik berhubungan dengan adipospati. Dimana adipospati ini ditandai dengan beberapa perubahan struktural dan fungsional pada jaringan adipose.
Kejadian obesitas tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak yang selama beberapa tahun terakhir ini terdapat peningkatan. Indeks massa tubuh (BMI) dan lingkar pinggang adalah ukuran antropometri yang digunakan untuk memprediksi gangguan metabolisme yang terkait dengan obesitas pada masa anak-anak. Dislipidemia sering terlihat pada anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas dan secara signifikan berhubungan dengan lingkar pinggang. Lingkar pinggang adalah parameter yang umum, mudah dan dapat digunakan untuk skrining dislipidemia pada anak-anak dan remaja yang kelebihan berat badan dan obesitas. Dalam sebuah studi, 70% dari anak-anak obesitas memiliki setidaknya satu faktor risiko kardiovaskular klinis, dislipidemia, tekanan darah tinggi, atau resistensi insulin. Dengan meningkatnya prevalensi obesitas, berbagai bentuk komorbiditas terlihat pada anak-anak dan salah satunya adalah dislipidemia.
Obesitas abdominal yang dapat merujuk pada terjadinya dislipidemia sebenarnya dapat dicegah dan diminimalisir dengan beberapa cara diantaranya, dengan meningkatkan aktivitas fisik agar makanan yang diasup sesuai dengan energi yang dikelurkan. Kemudian, pola makan juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko dislipidemia. Karena apabila terlalu sering mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak dan kolesterol akan semakin meningkatkan risiko terkena dislipidemia. Oleh karena itu, menjaga asupan dan pola sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan risiko terjadinya obesitas dan dislipidemia.
Daftar Pustaka :
Asma Deeb, Salima Attia, Samia Mahmoud, Ghada Elhaj, and Abubaker Elfatih. (2018). Dyslipidemia and Fatty Liver Disease in Overweight and Obese Children. Journal of Obesity, Vol. 2018: 1-6
Javier Sangro´s, et all. (2017). Association of General and Abdominal Obesity With Hypertension, Dyslipidemia and Prediabetes in the PREDAPS Study. Article In Press, 1-8
Jelena Vekic, Aleksandra Zeljkovic, Aleksandra Stefanovic, Zorana Jelic-Ivanovic, Vesna Spasojevic-Kalimanovska. (2019). Obesity and Dyslipidemia. Metabolism Clinical and Experimental, 92 (2019): 71-81







