Hubungan Junk Food dengan Obesitas pada Anak-Anak dan Dewasa

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Hubungan Junk Food dengan Obesitas pada Anak-Anak dan Dewasa

Astini, Auliya Husna, Naila Rokhimatunnisa, Nur Fitriani Aziz

Bacaan Lainnya

Globalisasi memberi pengaruh pada perubahan gaya hidup seseorang, baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Trend makanan saat ini berubah menjadi makanan instan yang tidak sehat. Terdapat banyak restaurant yang menyediakan makanan cepat saji, yang mana hal tersebut menyebabkan peningkatan prevalensi obesitas, termasuk pada anak-anak.

Obesitas pada anak dapat dilihat melalui Indeks Masa Tubuh (IMT) menurut Z score yang nilainya > 2 dengan menggunakan standart antropometri WHO 2007 untuk anak 5-18 tahun. Pada 2010 prevalensi obesitas pada anak di dunia mencapai 6,7%. Sedangkan di Indonesia, menurut Riskesdas tahun 2013 prevalensi obesitas pada anak 5-18 tahun mencapai 8,8%. Hal ini harus terus menjadi perhatian karena obesitas yang muncul pada usia anak-anak dapat berlanjut sampai dewasa.

Obesitas dapat meningkatkan resiko munculnya penyakit metabolism seperti jantung coroner, tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, dan sebagainya. Obesitas sendiri muncul karena adanya ketidak seimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi pada tubuh, sehingga menyebabkan simpanan berlebih pada jaringan lemak. Pemasukan energi pada tubuh yang didapat dari makanan instan, minuman kemasan, junk food, merupakan makanan dengan zat gizi yang rendah. Hal tersebut merupakan resiko utama terjadinya obesitas.

Makanan cepat saji banyak tersedia di lingkungan sekolah dan selalu bersaing dengan makanan bergizi yang juga terdapat di lingkungan sekolah. Anak usia 6 sampai 11 tahun memperoleh paling sedikit 20% energi yang dibutuhkan dari minuman, makanan ringan, jus makanan, dll yang ditunjukkan dalam data NHANES III.

Makanan cepat saji dikenal sebagai makanan siap saji dan ada perbedaan yang mencolok antara makanan cepat saji dan junk food. Pada tahun 1970, uang yang dihabiskan untuk makanan jauh dari rumah mewakili 25% dari total pengeluaran makanan dan persentase pengeluaran uang untuk makanan cepat saji meningkat menjadi 53% pada tahun 2010. Jumlah restoran cepat saji juga meningkat bahkan dua kali lipat dari tahun 1972 hingga 1995.

Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Masyarakat di perkotaan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengkonsumsi makanan cepat saji dari pada di pedesaan. Siswa diperbolehkan untuk membeli makan siang mereka dari kantin sekolah atau bahkan dari luar. Banyak pedagang dari luar area sekolah yang menjual makanan cepat saji dengan kualitas gizi yang kurang optimal.

Kandungan kalori yang dikonsumsi oleh anak-anak dari makanan di luar rumah 55% lebih tinggi dari pada makanan di rumah. Menurut penelitian, konsumsi makanan cepat saji secara teratur menyebabkan kelebihan asupan energi yang menyebabkan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sample 159 orang anak sekolah dasar usia 9-12 tahun di Denpasar Bali. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara konsumsi makanan cepat saji (junk food) dengan terjadinya obesitas. Terdapat 82 subjek yang mengonsumsi junk food, dan 21 diantaranya merupakan obesitas. Kemudian terdapat 93 subjek yang tidak mengonsumsi junk food, tetapi 11 diantaranya dinyatakan obesitas.

Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi junk food dan obesitas dengan hasil OR = 2,56. Hal ini menunjukan bahwa responden yang mengonsumsi junk food setiap hari atau setidaknya sekali dalam seminggu memiliki potensi tiga kali lebih tinggi terkena obesitas daripada responden yang hanya mengonsumsi junk food sekali atau dua kali dalam satu bulan.

Sebuah studi melakukan penelitian untuk mengetahui buah, sayuran, dan makanan cepat saji konsumsi di kalangan mahasiswa, penelitiannya menunjukkan bahwa dua pertiga mahasiswa dari Timisoara tidak makan buah dan sayur tiap hari, sementara pedoman merekomendasikan mengkonsumsi 5 porsi buah dan sayur setiap hari untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

Konsumsi junk food meningkatkan resiko obesitas karena pada umumnya junk food memilki kandungan kalori berlebih dan rendah zat gizi lainnya. Pendidikan orang tua dan aktifitas fisik dapat berpengaruh terhadap konsumsi junk food berlebih pada anak. Sehingga jika kedua hal tersebut dapat diatasi prevalensi obesitas pada anak akan berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Angela, A. L. (2020). Correlation between Junk Food Consumption with Obesity in Chilren in West Denpasar, Bali Indonesia. Journal Faculty of Medicine.

Kochar, H. K. (2019). Nutritional Challenges and Health Consequences of Junk Foods. Diabetes & Obesity Journal.

Mohammad Asabul Habib, A. I. (2020). Fast Food Intake and Prevalence of Overweight/ Obesity in tudents : do Eating Habits have a Differential Impact on Gender? International Journal of Contemporary Medical Research.

Pos terkait