Pengaruh Media Sosial Terhadap Fenomena Self Diagnose anak dibawah umur

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Magelangnews.com – Di zaman globalisasi seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh media sosial dalam penyebaran informasi sangat kuat. Penyebaran informasi terutama dalam bidang mental health sangat pesat, apalagi di era pandemi seperti sekarang mudah bagi seseorang terkena beberapa penyakit mental seperti depresi, bipolar, bahkan hingga anxiety disorder. Lalu apa hubungan dari media sosial dengan penyakit mental dan tren self diagnose belakangan ini.

Media sosial menyediakan berbagai layanan informasi mengenai ciri atau tanda tanda seseorang mengalami penyakit mental. Informasi tersebut bisa berasal dari konten yang dibuat oleh beberapa orang yang ahli dibidang kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater, namun bisa juga informasi tersebut berasal dari influencer yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam kasus ini banyak sekali orang yang langsung mendiagnosa dirinnya terkena gangguan kesehatan mental. Fenomena ini biasa kita sebut dengan Self Diagnose.

Kasus self diagnose ini sendiri belakangan ini sangat gencar, terbukti dari adanya beberapa konten di media sosial tiktok serta cuitan beberapa orang di twitter yang mengaku bahwa dirinnya terkena gangguan kesehatan mental tanpa adannya diagnosa resmi dari pihak yang bersangkutan seperti psikolog atau psikiater. Sangat disayangkan pula sebagian besar dari pelaku self diagnose tersebut adalah anak dibawah umur dengan rata rata usia 12-18 tahun. Usia anak pada sekolah menengah tersebut merupakan usia dimana anak mengalami pubertas. Perubahan hormon dan juga perilaku yang terjadi pada anak serta tekanan dari luar memang rentan bagi anak remaja untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Akan tetapi lebih berbahaya jika anak mendiagnosa dirinya sendiri mengalami gangguan kesehatan mental tanpa didampingi orang tua dan juga pihak terkait. Peran sosial media disini sangat berpengaruh, remaja cenderung meniru influencer yang sedang digandrunginya apalagi banyak influencer yang gencar melakukan sosialisasi kesehatan mental karena mereka cenderung pernah mengalami gangguan tersebut.

Pelaku dari fenomena self diagnose ini sendiri beranggapan bahwa dirinya mengalami beberapa tanda dari adanya gangguan kesehatan mental, hal tersebut yang diyakini mendukung seseorang melakukan self diagnose. Hal ini menyebabkan seseorang mengalami kecemasan berlebih yang bisa mengakibatkan munculnya gangguan kesehatan mental yang lain bahkan juga dapat menganggu diagnosa dari gangguan tersebut. Fenomena ini membuat banyak orang beranggapan bahwa gangguan kesehatan mental hanya bahan konten belaka, tentu hal ini mengganggu penyintas gangguan kesehatan mental yang telah ditangani oleh pihak profesional sehingga merasa kurang nyaman. Bahkan di beberapa kasus pengidap gangguan kesehatan mental yang sudah terindikasi mengalami gangguan tersebut malu untuk speak up terkait keadaan yang sedang dialaminya.

Film Joker adalah salah satu film yang membuat banyak orang mendiagnosa dirinya sendiri mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan disisi lain banyak yang mendiagnosa dirinnya sendiri adalah “psikopat”. Kemudian ada juga film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dan juga lagu dari musisi Kunto Aji yang sebenarnya sedang menggalakan mental health awareness namun banyak orang yang salah dalam menafsirkan karya tersebut.
Namun dari sisi lain sebenarnya sosial media sendiri adalah wadah yang sangat baik dalam sosialisasi isu kesehatan mental dan juga sebagai tombak dari adanya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Adanya influencer yang gencar menggalakan isu kesehatan mental membuat banyak orang sadar akan pentingnya kesehatan mental yang dahulu sempat dianggap tabu. Demikian juga dengan adannya sosialisasi pentingnya konsultasi ke pihak terkait jika mengalami adannya tanda tanda mengalami gangguan kesehatan mental.

Fenomena tren self diagnose ini dapat dicegah dengan adanya sosialisasi dari orang tua, guru, ataupun dari lingkungan teman mengenai kapan usia yang tepat dalam menggunakan media sosial dan juga konten apa yang layak ditonton agar tidak banyak remaja dan anak di bawah umur yang melakukan self diagnose. Kemudian juga sekarang banyak aplikasi yang mendukung adanya konsultasi secara online bagi penderita gangguan kesehatan mental yang mungkin sibuk dan tidak sempat untuk berkonsultasi secara langsung. Kemudian juga adanya layanan BPJS dan asuransi kesehatan lain yang mendukung konsultasi secara gratis tanpa dipungut biaya.

Pos terkait