Gurat keriput di wajah Mbah Prati (88) seolah memberitahukan kepada siapapun bahwa usianya tidak lagi muda. Tetapi bagi Mbah Prati, di usia yang hampir memasuki kepala sembilan, bukan berarti saatnya pensiun bekerja. Setiap sore hingga jam sepuluh malam, tubuh ringkih itu masih rajin menjajakan kacang goreng rebus di pinggir Jalan Raya Pasar Secang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Dengan tertatih-tatih, Mbah Prati berjalan dari rumahnya sampai ke pinggir jalan sekitar 300 meter, dan menjajakan dagangan di depan emperan sebuah toko. Sesekali ia tertidur saat berjualan, sebab menunggu pembeli yang datang.
“Mbah Prati sudah sulit untuk berkomunikasi, jadi ketika ditanya harga kacang beliau hanya menggunakan jari untuk menjawab. Sering Mbah Prati harus membawa pulang kacang-kacangnya karena sampai larut malam belum juga laku. Penghasilannya tidak menentu, berkisar Rp10 ribu sampai Rp30 ribu per hari. Uang itu pun, harus diputar kembali untuk modal berjualan,” terang Aditya Nugraha dari Tim Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Magelang pada akhir Mei lalu.
Hanya kerasnya kehidupan yang mendorong Mbah Prati tetap harus bekerja untuk menghidupi diri. Ia tinggal sendiri tanpa memiliki pasangan dan anak, sementara saudara-saudaranya pun sudah meninggal. Tidak ada lagi yang bisa ia jadikan sandaran untuk hidup di masa tua. Tempat tinggalnya ialah sepetak gubuk kecil yang hanya berisikan alas tidur dan dapur dengan tungku luweng, sehingga ketika memasak seisi rumahnya akan dipenuhi asap.
Mbah Prati kini tinggal sendiri sebab tidak memiliki pasangan dan anak, serta sebagian besar saudaranya telah meninggal dunia.
Tetapi fisik Mbah Prati masih kuat berkegiatan. Ia memasak dan merebus air sendiri, dan masih sempat memberi makan seekor kucing yang menjadi satu-satunya teman yang selalu menemani. Mbah Prati sempat akan dibawa ke panti jompo oleh warga sekitar yang kasihan dengan keadaannya, akan tetapi beliau bersikeras menolak dan ingin tetap tinggal di rumah tersebut. “Selagi masih bisa bergerak, Mbah Prati ingin tetap bekerja dan hidup mandiri,” ujar Aditya.
Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Magelang berkesempatan untuk berkunjung ke rumah si mbah dan memberikan bantuan berupa sembako untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari ke depan. Mbah Prati begitu gembira karena dikunjungi dan diberi bantuan. “Alhamdulillah mbah bisa makan dengan tenang,” sahut Mbah Prati.
Selain bantuan sembako, Tim ACT Magelang juga akan berikhtiar untuk membantu Mbah Prati dengan memberikan perabotan seperti kasur, serta bantuan pangan, dan obat-obatan agar Mbah Prati bisa hidup lebih nyaman dan aman.
“Kami memohon dukungan Sahabat Dermawan semua, semoga ikhtiar untuk membantu Mbah Prati ini dapat terwujud. Selain itu kami juga mengajak para dermawan untuk dapat menyalurkan bantuan pangan untuk lansia lainnya melalui Indonesia Dermawan, atau transfer ke rekening BSI 7164170564 atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap. Konfirmasi bantuan melalui WhatsApp di nomor 0812-1133-4453 atau Instagram @act_magelang,” jelas Aditya.







