Desa Trenten Sambut Antusias Inovasi Program BRICOFI Usulan TIM PPK ORMAWA BEM KM FMIPA UGM

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Desa Trenten berada di Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Desa Trenten memiliki wilayah seluas 375 ha dengan mayoritas lahan digunakan sebagai perkebunan kelapa. Kelapa-kelapa yang dipanen dari Desa Trenten diolah menjadi berbagai olahan kelapa oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Pengolahan kelapa menjadi berbagai olahan kelapa menghasilkan limbah berupa serabut dan tempurung kelapa yang menumpuk. Limbah olahan kelapa tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengandung zat tanin. Zat tanin yang terkandung dalam limbah olahan kelapa tersebut dapat mengurangi kesuburan tanah.

Tim PPK ORMAWA BEM KM FMIPA yang melihat adanya peluang dari limbah olahan kelapa di Desa Trenten, kemudian membawakan program yang berjudul  “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Limbah Kelapa Menjadi Briket, Cocopeat, dan Cocofiber Untuk Mendukung Zero Waste dan Perekonomian Masyarakat Desa Trenten”.

Dalam program BRICOFI, limbah tempurung kelapa akan diolah menjadi briket, sedangkan limbah serabut kelapa akan diolah menjadi cocopeat dan cocofiber.

Briket adalah tempurung kelapa yang dikarbonisasi dengan cara pembakaran, dihaluskan, dicampur dengan perekat, lalu dicetak. Briket dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Cocopeat adalah kulit dari serabut kelapa yang dihancurkan dan dapat dimanfaatkan sebagai media tanam. Cocofiber adalah serat dari serabut kelapa yang dapat dimanfaatkan sebagai keset, sapu, hingga tali tambang.

Program BRICOFI diusung oleh PPK Ormawa BEM KM FMIPA ini diketuai oleh Griselda Lituhayu Tetuko Jakti dengan anggota sebanyak 13 orang dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan dibimbing secara langsung oleh dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng.

Dengan adanya program BRICOFI, kami berharap dapat membantu menyelesaikan masalah limbah serabut dan tempurung kelapa di Desa Trenten, sekaligus meningkatkan perekonomian di Desa Trenten sebagai bentuk perwujudan dari Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-8 yaitu Decent Work and Economic Growth,” ucap Griselda di kampus Senin (1/7).

Ketua KWT Nira Lestari, Ibu Yuni mengungkapkan bahwa beliau sangat senang karena inovasi dari tim BRICOFI, dan merasa sangat antusias untuk mengikuti program BRICOFI. Beliau juga siap untuk mendukung dan berkolaborasi penuh terhadap pelaksanaan program BRICOFI kedepannya.

“Saya sangat senang dengan kehadiran mahasiswa-mahasiswa dari UGM, karena program yang diberikan sangat bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan saya. Saya berharap program BRICOFI dapat semakin berkembang, maju, serta dapat terlaksana secara berkelanjutan,” tutur Ibu Nur Arofah, anggota GAPOKTAN Sabtu (1/7).

Program dibuka dengan pengenalan manajemen limbah dan zero waste serta pelatihan pengolahan limbah menjadi briket, cocopeat, dan cocofiber (BRICOFI) yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya zero waste dan adanya potensi dalam limbah produksi olahan kelapa. Selanjutnya digelar pelatihan manajemen usaha dan pemasaran untuk meningkatkan kemampuan masyarakat Desa Trenten dalam memperluas target pasar.

“Dengan adanya kolaborasi dari masyarakat di Desa Trenten dan kami mahasiswa BEM KM FMIPA UGM, semoga program dapat bermanfaat bagi masyarakat secara ekonomi, dan dapat meningkatkan kemampuan kami dalam berbagai softkill salah satunya yaitu berbicara di depan umum,” ujar Dani Elanovia selaku sekretaris tim BRICOFI Senin (1/7).

Pos terkait