Selain terkenal akan pariwisata, Magelang juga terkenal sebagai penghasil salak. Ada penggemar buah salak di sini? Buah ini umumnya langsung dimakan atau dijadikan bahan olahan makanan seperti manisan atau keripik. Namun, pernah kah mengira bahwa kulit salak yang kita buang bisa diolah jadi produk pembersih muka?
Faktanya, kulit salak memiliki potensi sebagai skin care alami. Saerina Azka Sabila, pelajar SMP Negeri 1 Magelang dibawah bimbingan Ibu Rini Eka Handayani, membuktikannya dengan mengolah kulit salak menjadi facial wash and scrub 2-in-1 yang diklaim dapat melawan penuaan dini, meremajakan kulit, dan mencerahkan kulit wajah.
Saerina mengatakan bahwa kulit salak sebagai bahan dasar dari skin care ini tidak pernah di manfaatkan oleh pelaku usaha makanan olahan buah salak karena dianggap tidak berharga. Padahal, banyak kandungan yang berharga untuk kulit. Salah satunya adalah antioksidan dan vitamin C yang berfungsi untuk peremajaan kulit serta mencerahkan kulit.
Lebih lanjut Saerina menjelaskan penggunaan kulit salak yang berasal dari alam diharapkan dapat meminimalisir efek samping yang ditimbulkan dari pembersih muka berbahan dasar kimia sintesis. Selain itu, kulit salak merupakan salah satu tumbuhan yang sangat mudah di jumpai di Indonesia khususnya Magelang.
“Saat ini skin care yang tidak pernah lepas dari masyarakat khususnya remaja adalah facial wash. Apalagi saat ini banyak skin care impor yang menjamur masuk di Indonesia. Oleh karena itu, sebagai generasi muda kita perlu eksplor bahan alami sebagai bahan baku pembuatan produk lokal skin care anti-mainstream,” jelasnya.
Hal tersebut diwujudkan dengan membuat penelitian yang diusungnya dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tahun 2024 ini. Opsi merupakan ajang kompetisi penelitian ilmiah tahunan bagi siswa SMP dan SMA sederajat, baik berupa karya tulis maupun temuan yang dilaksanakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kontribusi siswa serta partisipasi masyarakat dalam pengembangan riset ilmu dan teknologi yang berkelanjutan di Indonesia.
Oleh karenanya, Saerina mengikuti ajang tersebut dan lolos dalam tahap penelitian. Ia memanfaatkan kulit salak sebagai bahan utama dalam penelitiannya. Kulit salak dikenal kaya akan senyawa kimia yang terbukti membantu untuk peremajaan kulit dan membuat kulit wajah menjadi glowing. Penambahkan beras merah dilakukan sebagai scrub alami. Saerina mengemasnya sebagai facial wash and scrub 2-in-1.
Ia melakukan riset selama kurang lebih 5 bulan dimulai sejak bulan April hingga awal bulan September 2024. Penelitian ini dinilai menyenangkan oleh Saerina. Ia mengaku kompetisi OPSI merupakan pengalaman pertamanya sejak duduk di bangku SMP. Berkat dorongan yang kuat dari pihak keluarga dan sekolah, Ia memberanikan diri untuk mengikuti ajang bergengsi ini.
Mulanya kulit salak yang didapatkan, bersihkan hingga bersih, kemudian dilakukan pengeringan dengan pemanfaatan panas matahari. Proses pengeringan membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari. Kulit salak kemudian di blender dan menghasilkan simplisia. Hasil simplisia yang didapatkan dijadikan ekstrak kulit salak. Tidak hanya itu, ia juga melakukan pengujian fitokimia untuk melihat ada dan tidaknya kandungan metabolit sekunder yang ada dalam kulit buah salak.







