Mengungkap Keunikan Manuskrip Kuno al-Qur’an di Museum Gusjigang
Penulis: Khafidhotul Ilma (IAIN Kudus Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Kudus)
Pengertian Manuskrip kuno
Naskah kuno atau biasa disebut dengan manuskrip dalam bahasa inggris adalah manuscript dan dalam bahasa belanda adalah handscript, manuskrip merupakan tulisan tangan asli yang memiliki arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, naskah bisa dikatakan manuskrip ketika tulisan tersebut berusia minimal 50 tahun.
Salah satu manuskrip yang bisa dibahas yaitu mengenai manuskrip kuno al-Qur’an, yang di dalamnya menjelaskan kandungan nilai-nilai penting terhadap al-Qur’an itu sendiri seperti rasm, jenis khat, tanda wakaf, dan lainya.
Manuskrip bukan hanya mengenai al-Qur’an saja melainkan ilmu-ilmu yang lainnya, seperti dongeng, obat-obatan, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri ada tiga jenis manuskrip diantaranya adalah pertama, manuskrip islam, manuskrip ini berbahasa dan bertulisan Arab. Kedua, Manuskrip jawi. Dan ketiga, manuskrip pegon.
Ilmu Yang Mempelajari Naskah Manuskrip
Filologi merupakan cabang ilmu yang kajian utamanya adalah naskah (manuscript). Akan tetapi, aspek Filologis sebenarnya hanya mengacu pada salah satu aspek saja yang terkandung dalam naskah, yakni teksnya. Karena itu, kajian Filologi juga sering disebut dengan kajian Tekstologi, ilmu yang fokus mengkaji teks. Padahal selain teks, dalam naskah juga terdapat komponen yang patut diperhatikan, yakni menyangkut hal-hal fisik naskah. seperti alas naskah yang digunakan, sejarah dan asal-usul, cap kertas (watermark), kolofon, dan aksara.
Tujuan dari filologi sendiri adalah untuk mengetahui isi teks dari pengarang dan bentuk teks yang disajikan, dan objek kajian Filologi adalah naskah dan teks. Naskah berasal dari bahasa Arab yang berarti tulisan tangan. Sedangkan dalam bahasa latin naskah disebut dengan “manuskrip” ataupun “kodeks”.
Museum Gusjigang Kudus
Salah satu tempat dimana terdapat manuskrip kuno yang didalamnya berkaitan dengan filologi adalah di daerah Jawa Tengah yaitu di daerah kudus tepatnya Museum Gusjigang. Museum gusjigang merupakan salah satu tempat destinasi wisata religius yang terletak di daerah kudus jawa tengah tepatnya ada di jalan Sunan Muria nomor 33 kota kudus, dan merupakan pengembangan setalah adanya museum jenang.
Nama Gusjigang mempunyai kepanjangan sendiri yaitu Gus yang artinya bagus akhlaknya, ji itu pandai mengaji, dan gang adalah pintar berdagang. Dari ketiga maksud di atas merupakan falsafah masyarakat kudus sebagai local wisdom dan local culture serta ajaran moral kehidupan yang di wariskan oleh Sunan Kudus.
Nama Gusjigang juga menjadikan tuntunan masyarakat terutama di daerah sekitarnya agar masyarakat mereka memiliki tekad yang kuat untuk berkepribadian yang bagus, bukan hanya itu saja melaikan mereka juga mau mengaji dan mau berusaha seperti berdagang.
Keunikan Manuskrip Kuno al-Qur’an Di Museum Gusjigang
Di dalam museum gusjigang terdapat beberapa manuskrip kuno al-Qur’an yang masing-masing memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri. Salah satunya manuskrip yang saya teliti, yaitu manuskrip al-Qur’an kuno yang terbuat dari bahan kulit hewan sapi.
Manuskrip ini memiliki cover yang begitu tebal karena terbuat dari bahan kulit hewan sapi. Tidak hanya di bagian cover atau sampul al-Qur’an saja melainkan disemua halaman didalamnya. Sehingga terasa berat tida seperti yang lainya, total berat al-Qur’an kuno ini yaitu mencapai 14,2 Kg.
Penulisan al-Qur’an pada setiap halaman terdapat hiasan dengan lapisan tinta kuning keemasan, merah dan biru. Perlu kita ketahui bahwasanya dalam penulisan tersebut telah ditulis oleh orang yang berbeda- beda. Maksudnya ada bagian tersendiri tiap orang yang menulis atau menghiasi al-Qur’an kuno tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin indah tulisannya akan semakin mahal harganya.
Manuskrip al-Qur’an kuno yang terbuat dari bahas hewan sapi ini menggunakan jenis rasm Utsmani dengan menerapkan beberapa kaidahnya diantarannya adalah:
Kaidah hadz Alif (pembuangan Alif) Seperti pada lafal الكتاب Kata kitab ditulis tanpa Alif dengan harokah Alif berdiri الكتٰب
Kaidah ziyadah (Huruf Tambahan) Seperti pada lafal قالوا sesudah wawu jama’ ditambahkan Alif
Baris ayat perhalaman hanya ada 6 baris menggunakan khat nasakhi. Khat Nasakh (Naskhi) adalah salah satu jenis Khat yang paling mudah dibaca. Jenis inilah yang paling sering kita dapati ketika melihat atau membaca tulisan ayat pada mushaf al- Qur’an dan sering digunakan untuk menyalin teks-teks ilmiah. Karena jenis ini relatif sangat mudah dibaca dan ditulis, maka tulisan ini paling banyak digunakan oleh para muslim dan orang Arab di belahan dunia. Ini menjadi suatu salah satu keunikan tersendiri yang terdapat pada manuskrip al-Qur’an kuno yang tentu sangat berbeda dengan mushaf al-Qur’an diera sekarang.







