Magelang News, Nilai-nilai budaya Jawa dapat dijadikan sebagai modal untuk membentuk identitas dan karakter masyarakat Jawa. Jati diri dan karakter tidak hanya tampak secara fisik melainkan tampak juga pada nilai inti dari sikap hidup, kearifan lokal dan juga penggunaan bahasa daerahnya. Saat ini budaya Jawa memiliki nilai dan citra budaya yang sangat tinggi, hal ini telah menjadi identitas daerah mendapat tekanan dari perubahan budaya asing. Akibatnya, minat masyarakat Jawa terutama generasi muda untuk mempelajari dan mengembangkan budaya ini pun menurun.
Di tengah arus globalisasi, tidak mudah untuk melestarikan dan mewariskan budaya kepada generasi muda. Budaya harus terus dilestarikan agar tidak ada budaya yang hilang dengan adanya modernisasi. Tentunya sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melestarikan budaya Indonesia termasuk budaya Jawa.
Untuk meminimalisir kemungkinan buruk dari hilangnya budaya Jawa dimasa yang akan datang, SDN Rejowinangun Utara 04 menerapkan program “Nguri-uri Basa Jawa” dimana kegiatan ini dilakukan rutin seminggu sekali tepatnya pada hari Kamis.
“Program ini baru dimulai tahun ajaran 2022/2023. Jadi setiap hari kamis, sekolah mewajibkan siswa untuk menggunakan Basa Jawa dalam kegiatan pembelajaran. Dan khusus dihari Kamis ini guru mengisi jam pembelajaran dengan literasi Basa Jawa seperti tembang dolanan,tembang macapat, mendongeng, geguritan, ajar pacelathon berbasis Basa Jawa, ajar unggah ungguh, subasuta marang sapada dan lain sebagainya.” Tutur H.A.T. Wahyu Handayani, S.Pd selaku wali dari kelas 5.
Penggunaan Krama Inggil Jawa di kalangan anak muda juga mengalami penurunan, hal ini mendorong anak-anak untuk mulai menggunakan kembali Krama Inggil Jawa. Untuk mempelajari krama inggil dan adat Jawa, Program tersebut ternyata diterima dengan sangat baik oleh anak-anak dan orang tuanya. Anak-anak sangat antusias mempelajari bahasa Jawa Krama Inggil yang merupakan bahasa komunikasi sehari-hari. Selain pelajaran bahasa, anak juga diajarkan cara bersikap atau berinteraksi dengan orang tua.
Bahasa Jawa adalah bahasa ibu, karenanya menjadi bahasa sehari-hari warga Paten Jurang. Adanya pembiasaan Basa Jawa di sekolah, harapannya agar siswa dapat memiliki pemahaman yang baik tentang sastra, budaya dan adat istiadat jawa
“selain siswa yang antusias dengan pelaksanaan kegiatan ini, pihak sekolah juga mendapat dukungan dari orang tua siswa terkait program tersebut.” Imbuhnya.
“Tanggapan saya mengenai kegiatan tersebut sangat bermanfaat baik bagi siswa itu sendiri maupun guru dan rekan kerja yang lainnya, karena selain melestarikan budaya bahasa Jawa juga dapat dijadikan sebagai ajang keberanian anak dalam memupuk mental, dan diantara rekan kerja juga bisa saling menimba ilmu dan belajar bersama membenahi tutur kata yang kadang tidak sengaja diucapkan namun di dalam kaidah bahasa Jawa belum sesuai penempatannya” Jelas H.A.T. Wahyu Handayani, S.Pd selaku wali dari kelas 5.
Untuk ikut mendukung program Nguri-uri Basa Jawa di SDN Rejowinangun Utara 4, mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang terjun langsung dalam salah satu kegiatan yang ada pada program Nguri-uri Basa Jawa ini yaitu belajar tentang berbagai macam tembang dolanan. Kegiatan ini dilakukan mahasiswa bersama dengan siswa kelas 4 SDN Rejowinangun Utara 4. Selain mahasiswa membahas mengenai tembang dolanan, mahasiswa juga mengenalkan tentang aksara jawa beserta sandhangannya. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para siswa sehingga tercipta keadaan belajar yang menyenangkan.
Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Magelang yaitu Cynthia Rachma dan Novi Ainur Rosyidah mengampu pada kegiatan belajar mengenai berbagai macam tembang dolanan sedangkan Nurma Yunita dan Erlina Indrawati mengenalkan tentang aksara jawa beserta sandhangannya.
“Kami merasa senang dapat berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran tentang budaya Jawa ini. Kami berharap siswa bisa memahami apa yang telah kami dari mahasiswa sampaikan juga siswa bisa menghargai keragaman budaya Indonesia dan memperkuat rasa nasionalisme mereka.” Ungkap Novi Wulandani selaku ketua dari kelompok 5 PLP 1 Universitas Muhammadiyah Magelang.
“Dengan mengajarkan bahasa Jawa di sekolah, sekolah dapat turut serta melestarikan budaya lokal dan membangun rasa nasionalisme pada siswa” ungkap Didik Prayogo selaku mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Magelang
Dengan adanya kontribusi dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang, dari pihak SDN Rejowinangun Utara 4, dapat memberikan pengalaman yang lebih bervariasi dan menarik bagi para siswa maupun mahasiswa itu sendiri.
Untuk melestarikan keragaman budaya Indonesia kerjasama antara mahasiswa dan sekolah juga diperlukan. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan menjadi langkah nyata dalam memperkuat rasa nasionalisme dan menjaga keberagaman budaya Indonesia terutama budaya Jawa.







