Eksistensi Tari Cepetan di Era Sekarang

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Eksistensi Tari Cepetan di Era Sekarang

Oleh:

Sabrina Idamatus Silmi, Dr. Eka Titi Andaryani, S.Pd., M.Pd

Mahasiswi PGSD, Dosen PGSD FIPP Universitas Negeri Semarang

 

Seni didefinisikan sebagai suatu produk budaya dari sebuah peradaban manusia, sebuah wajah dari suatu kebudayaan yang diciptakan oleh suatu sekelompok masyarakat atau bangsa. Seni budaya merupakan salah satu aspek yang memiliki nilai estetikanya tersendiri. Seni budaya sangat beragam, seperti seni musik, seni tari, alat musik tradisional, rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, dan masih banyak yang lainnya. 

Esensial seni budaya sering dianggap hal yang sepele bahkan banyak dari masyarakat yang telah melupakan seni budaya di sekitar. Kita sebagai masyarakat seharusnya senantiasa untuk selalu melestarikan seni budaya yang ada di sekitar kita agar eksistensi seni budaya tersebut akan tetap terjaga dan lestari. Seni itu menciptakan kerinduan akan hidup yang abadi, karena tujuan utama dari seni adalah hidup itu sendiri. Seni dianggap sebagai saran yang penting bagi prestasi kehidupan sehingga ia harus memelihara ladang kehidupan agar tetap hijau dan memberikan petunjuk kehidupan bagi manusia. Seni memiliki daya magis dan harus dimanfaatkan untuk menciptakan pribadi manusia yang baik. Seni harus mampu membuat kemajuan sosial.

Salah satu seni budaya yang ada di daerah Kebumen yaitu Tari Cepetan / Cepetan Alas. Seni Tari Cepetan ini berasal dari wilayah utara Kebumen yaitu Pejagoan wilayah Utara seperti Watulawang, Pengaringan, Peniron hingga Aditirto, serta wilayah Karanggayam dan sekitarnya. Kesenian ini pada dasarnya lahir sebagai bentuk perlawanan non fisik rakyat terhadap keberadaan pegawai Hindia Belanda di kawasan onderneming/ perkebunan luas milik Hindia Belanda pada abad 19, dengan cara menakut-nakuti pemilik perkebunan hingga mereka tidak kerasan dan meninggalkan wilayah tersebut. Tari cepetan ini menggunakan topeng yang berbentuk menyeramkan ini juga bertujuan untuk menakut nakuti para penjajah Jepang agar mereka tidak datang ke pemukiman warga. Seiring berjalannya waktu, dari gerakan dan kostum yang menakutkan tersebut terciptalah tarian cepetan alas.

Pada saat penampilan tari yang satu ini, tampak penari berjumlah 11 sampai 17 orang laki-laki yang memakai tiga topeng karakter. Karakter pertama yang baik, yaitu manusia, karakter kedua hewan-hewan (monyet, harimau, dan gajah). Serta ketiga berupa karakter makhluk halus, seperti cepet, bekasakan, banaspati, raksasa, dan lainnya.

Kesenian Cepetan Alas berasal dari kata Cepet yang konon merupakan salah satu makhluk halus pada cerita masyarakat Kebumen khususnya di daerah pedesaan, serta kata Alas yang merupakan bahasa Jawa dari hutan, dibawakan dalam sebuah grup yang terdiri atas penari dan pemain musik (gamelan). Para penari menggunakan topeng yang terbuat dari kayu pule dengan diberi ijuk sebagai rambut. Umumnya memakai kostum hitam, ikat pinggang, serta jarik.  

Pada perkembangannya di era modern, kesenian cepetan tidak selalu dibawakan secara magis dengan penari mengalami kesurupan sebagai daya tarik hiburan masyarakat di desa-desa, kesenian ini telah berevolusi menjadi sebuah kesenian hiburan khas Kebumen yang melibatkan seni tari dan musik dengan pementasan dilakukan di pusat kota Kebumen. Walaupun Tari Cepetan ini sudah mengalami perkembangan, para penarinya tetap menjaga dan mempertahankan nilai tradisional yang ada pada Tari Cepetan. 

 

Pos terkait