Pemanfaatan Kesenian Wayang Sebagai Media Pembelajaran di Sekolah Dasar, Efektifkah?

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Mahasiswa S1 PGSD, Dosen PGSD FIPP Universitas Negeri Semarang

 

Bacaan Lainnya

Saat ini, tuntutan kepada guru akan pendidikan sangat tinggi. Guru dituntut untuk cerdas, cermat dan sekreatif mungkin dalam mengajar agar mampu memberikan pemahaman materi yang tepat kepada peserta didiknya. Penggunaan media dalam pembelajaran atau yang sering disebut media pembelajaran  pun tidak luput menjadi sorotan. Ada beragam media pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Semakin berkembangnya zaman, makin banyak  guru-guru kreatif yang lahir dan makin banyak pula ragam dari media pembelajaran. Selain media pembelajaran konkret atau konvensional, sekarang sudah banyak media pembelajaran yang memanfaatkan teknologi mengikuti perkembangan di era sekarang seperti wordwall, quizizz, dan lainnya. Ada juga media pembelajaran yang memanfaatkan kesenian seperti kesenian wayang, musik, kerajinan tangan, dan lain sebagainya.

Sesuai dengan namanya, media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam pembelajaran untuk mendukung pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Oleh sebab itu, keberadaan media pembelajaran sangat penting dalam sebuah pembelajaran, terutama untuk pembelajaran pada Jenjang Sekolah Dasar. Di jenjang Sekolah Dasar yang usia peserta didiknya sekitar 6 – 12 tahun, sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget, anak tersebut memasuki tahap operasional konkret yang mana anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada. Sehingga, media pembelajaran menjadi objek fisik untuk menstimulus logika siswa dalam memahami materi.

Wayang yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO dan diakui secara internasional, juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Wayang yang meliputi seni peran, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang, dapat dimanfaatkan dan diinovasikan menjadi sebuah media pembelajaran. Wayang kulit atau wayang golek, dapat dijadikan referensi dan diinovasikan untuk dijadikan media pembelajaran untuk mengenalkan baju-baju adat dan bahasa daerah di Indonesia, dengan mengubah orang dan baju pada wayang tersebut sesuai dengan daerah yang ingin dikenalkan. Kemudian guru memainkan wayang tersebut dengan dialog bahasa suatu daerah, juga mengenalkan baju adat yang digunakan. Cara tersebut juga berlaku untuk mengenalkan profesi kepada peserta didik, dengan menyesuaikan bentuk wayang dengan pakaian pada setiap profesi.

Banyak guru yang telah menggunakan wayang sebagai media pembelajaran. Untuk mengajarkan materi ekosistem atau komponen biotik dan abiotik pada muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), guru dapat membuat wayang berbentuk hewan dan tumbuhan lengkap dengan tempat tinggalnya. Tidak hanya itu, untuk menjelaskan sebuah situasi seperti ‘kemalingan’, guru dapat membimbing peserta didik untuk bermain peran sesuai tema yang dibuat seperti pertunjukan wayang orang. Guru juga dapat membuat wayang sesuai karakter yang diinginkan dan mendalang seperti dalang memainkan wayang, namun dengan jalan cerita yang berbeda, sesuai dengan materi yang ditetapkan.

Banyak cara yang dapat digunakan guru untuk membuat media pembelajaran berbasis wayang. Dengan menyesuaikan materi yang diajarkan, wayang dapat diinovasikan. Karena tidak sedikit materi yang membutuhkan media sebagai contoh nyata untuk mendukung pemahaman siswa, maka pemanfaatan kesenian wayang menjadi solusi yang baik karena dapat menjadi salah satu pilihan media pembelajaran bagi pengajar. Selain itu, dengan memanfaatkan kesenian wayang juga dapat menjadi langkah untuk melestarikan warisan budaya Indonesia yang ada, sehingga eksistensi kesenian wayang tidak luntur oleh zaman.

Pos terkait