Sabtu (13/01/2024), Dalam rangka menguatkan sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), Tim Mahasiswa KKN Universitas Tidar mengadakan kunjungan ke salah satu UMKM di Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Kunjungan ini bertujuan untuk memahami lebih dalam tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha di wilayah tersebut. UMKM “Besek Bambu” menjadi sasaran utama dari kunjungan ini karena mayoritas usaha yang dimiliki warga Desa Sidorejo yaitu “produsen dan pengepul besek bambu”. Kunjungan ini dilakukan di rumah kediaman Ibu Siti Yumaroh sebagai salah satu pelaku usaha “besek bambu”.
Dalam kunjungan tersebut, Tim Mahasiswa KKN Universitas Tidar berinteraksi langsung dengan pelaku usaha, mendengarkan aspirasinya, serta meninjau proses produksi dan distribusi. “Sudah sekitar 13 tahun saya membuka usaha besek bambu,” tutur Ibu Siti Yumaroh. “Alasan saya tetap mempertahankan usaha ini karena untuk mengisi waktu luang di samping bekerja di ladang dan alhamdulillah sampai saat ini saya masih senang menjalankan usaha ini,” imbuhnya.
Proses pembuatan besek dimulai dengan pemilihan bahan baku yaitu daun kelapa yang masih muda dan fleksibel. Kemudian, daun kelapa tersebut direndam agar lebih lentur dan mudah dibentuk. Setelah tahap perendaman, tahap pemilihan motif dan desain yang akan diaplikasikan pada besek. Terakhir, tahap anyaman besek. Tahap ini membutuhkan ketelatenan dan keahlian untuk membentuk besek dengan presisi yang tinggi.
Kunjungan ini bukan hanya sekadar agenda harian saja, melainkan bentuk nyata dari komitmen mahasiswa untuk turut serta dalam pemberdayaan kearifan lokal. “Tak hanya sebatas pembuatan, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenali dan meneruskan kearifan lokal. Dengan semakin popular dan diapresiasi, proses pembuatan besek tidak hanya menjaga tradisi lokal tetap hidup, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi para pelaku usaha. Semoga melalui usaha ini kekayaan budaya Indonesia dapat terus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang,” ujar Kholil selaku Ketua KKN Desa Sidorejo.
Ditinjau dari segi harga, produk ini dijual mulai dari Rp 25.000. Penentuan harga tersebut disesuaikan dengan harga yang beredar di pasaran dan jenis ukuran produk. Produk ini terbagi menjadi tiga jenis ukuran, yakni kecil, sedang, dan besar. Ukuran yang paling kecil memiliki diameter 10 cm. Sedangkan, ukuran yang paling besar memiliki diameter 25 cm. Adanya variasi ukuran produk dapat memberikan solusi praktis dan fungsional untuk setiap pengguna.
Dari segi penjualan produk, produk usaha ini sudah terjual hingga luar Jawa. Hal ini sebagai akibat adanya penerapan pemasaran produk secara online. Kebanyakan pelanggan yang membeli produk ini berasal dari daerah Bali dan Yogyakarta. Biasanya pelanggan memesan produk ini untuk dijadikan tempat/wadah pada acara hajatan dan pernikahan. “Ada juga yang dijadikan sebagai tempat/wadah bagi pelaku usaha kuliner, seperti ayam bakar, sate, gudeg, getuk goreng, dan sebagainya,” ujar Ibu Siti Yumaroh.
Rekor penjualan tertinggi terjadi saat Pandemi Covid-19. Mengingat kembali waktu pandemi banyak sektor UMKM yang mengalami penurunan penjualan justru usaha ini mengalami peningkatan penjualan. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang sedang mengalami penurunan atau pemerosotan penjualan. “Sekarang usaha sedang mengalami penurunan karena sedang berada di bulan Pemilu padahal biasanya tidak seperti ini,” ucap Ibu Siti Yumaroh. Harapannya setelah Pemilu ini aktivitas usaha dapat kembali seperti semula.







