Selain itu, proses kreatif juga tidak boleh berhenti. Menurut Litu berbagai penyesuaian demi beradaptasi pada berbagai perubahan harus juga dilakukan, tetapi ada ruh yang tidak boleh dihilangkan.
“Jadi karya kreatif kan memang beradaptasi, itu lumrah kan, tetapi jangan sampai penyesuaian itu membuat karya kita kosong, tanpa jiwa dan bahkan tanpa nilai,” imbunya.
Dalam ajang Taffest 2025 ini, Lituhayu Kalahari menampilkan balutan busana casual yang rileks, dengan kombinasi warna merah maroon, coklat dan kuning serta ristan putih di beebagai bagian.
“Ini temannya kan heritage, jadi faktor keluhuran budaya, kesejarahan harus tetap muncul. Merah maroon dan kuning yang ada ingin menyampaikan pesan tersebut,” pungkas Litu.
Desainer yang baru memasuki semester kedua di Fakultas Industri Kreatif Telkom University ini bertekad akan terus mengeksplor kemampuannya dalam mewarnai karya seni fashion di Indonesia (zam)






