Pernah mendengar istilah “obat dewa” untuk menyebut dexamethasone atau obat steroid lainnya? Julukan tersebut muncul karena efek obat golongan kortikosteroid ini terkadang terasa begitu cepat dalam meredakan peradangan, alergi berat, hingga sejumlah kondisi medis tertentu.
Namun, di balik efeknya yang dianggap “ajaib”, dexamethasone bukanlah obat yang boleh dikonsumsi sembarangan. Penggunaan tanpa indikasi dan pengawasan dokter justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menjelaskan, steroid sering disebut sebagai “obat dewa” karena mampu memberikan efek dramatis dan cepat pada berbagai penyakit yang berkaitan dengan peradangan. Cara kerjanya adalah dengan menekan respons peradangan dan sistem kekebalan tubuh.
Efek inilah yang membuat seseorang bisa merasa keluhannya cepat membaik. Rasa nyeri, bengkak, atau gejala peradangan dapat berkurang setelah penggunaan obat. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti penyakit yang mendasarinya telah sembuh. Pada beberapa kasus, obat hanya menekan respons tubuh terhadap penyakit.
Karena itu, dexamethasone sebenarnya bukan obat yang cocok untuk semua keluhan. Penggunaannya harus disesuaikan dengan diagnosis, kondisi pasien, dosis, serta lama pengobatan.
Ada “Harga” di Balik Efek Cepat
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa penggunaan dexamethasone tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka panjang dapat menyebabkan sejumlah efek samping. Di antaranya adalah menurunnya daya tahan tubuh, meningkatnya tekanan darah, diabetes, perubahan bentuk wajah atau yang dikenal sebagai moon face, hingga dapat menutupi gejala penyakit tertentu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menjelaskan bahwa penggunaan kortikosteroid seperti dexamethasone dalam jangka panjang, terutama lebih dari dua minggu, dapat dikaitkan dengan berbagai efek samping. Risiko yang dapat muncul antara lain peningkatan kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penumpukan cairan, perubahan suasana hati, gangguan psikologis, kenaikan berat badan, peningkatan risiko infeksi, osteoporosis, katarak, dan glaukoma.
Artinya, efek “cepat sembuh” yang dirasakan setelah mengonsumsi dexamethasone bukan berarti obat tersebut bebas risiko. Justru karena efeknya kuat, penggunaannya harus tepat.
Bukan Obat yang Bisa Diminum Saat Badan Tidak Enak
Kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan dexamethasone sebagai obat andalan setiap kali tubuh terasa tidak enak, pegal, nyeri, atau mengalami keluhan ringan lainnya.
Padahal, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa penggunaan dexamethasone harus mengikuti anjuran dokter. Dosis dan lama pemakaian ditentukan berdasarkan usia, kondisi kesehatan, diagnosis, serta respons pasien terhadap obat.
Untuk penggunaan jangka panjang, obat ini juga tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba tanpa arahan dokter. Penghentian biasanya perlu dilakukan secara bertahap sesuai petunjuk tenaga medis.
BPOM pun telah mengingatkan masyarakat agar tidak membeli atau menggunakan dexamethasone dan obat steroid lainnya secara bebas tanpa resep dokter.
Jadi, Mengapa Disebut “Obat Dewa”?
Sederhananya, istilah tersebut muncul karena steroid memiliki kemampuan menekan peradangan dengan cepat dan kuat. Dalam kondisi tertentu, kemampuan ini memang bisa sangat membantu dan bahkan menyelamatkan nyawa.
WHO, misalnya, merekomendasikan kortikosteroid seperti dexamethasone untuk pasien COVID-19 dengan kondisi berat atau kritis dalam konteks perawatan medis. Namun, WHO menegaskan bahwa obat tersebut tidak direkomendasikan untuk pasien COVID-19 dengan kondisi tidak berat karena dalam kondisi tertentu justru dapat berbahaya.
Jadi, dexamethasone bukan “obat dewa” dalam arti bisa menyembuhkan segala penyakit. Obat ini lebih tepat disebut sebagai obat yang sangat kuat dan bermanfaat bila digunakan pada kondisi yang tepat.
Di tangan dokter, dexamethasone bisa menjadi obat yang sangat berguna. Namun, jika digunakan sembarangan, obat yang sama dapat berubah menjadi sumber masalah baru.
Karena itu, jangan tergoda dengan efek cepatnya. Jika merasa sakit, cari tahu penyebabnya dan konsultasikan dengan tenaga medis. Jangan menjadikan dexamethasone sebagai obat andalan pribadi hanya karena pernah merasa cepat membaik setelah meminumnya.
Sumber: Kementerian Kesehatan RI, BPOM RI, dan World Health Organization (WHO). (keslan.kemkes.go.id)






