Magelang – Universitas Tidar (UNTIDAR) kembali menggelar prosesi wisuda periode ke-70 tahun 2025 untuk jenjang Magister, Sarjana, Sarjana Terapan, dan Ahli Madya pada Sabtu (26/7) di Gedung dr. H. R. Suparsono, Jalan Kapten Suparman No. 39, Magelang. Sebanyak 517 wisudawan resmi dikukuhkan dalam prosesi yang sarat makna dan semangat kemandirian tersebut.
Para wisudawan berasal dari 20 program studi di lima fakultas, yakni Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknik, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Dari ratusan lulusan, terdapat 331 wisudawan yang lulus dengan predikat Cumlaude. Salah satunya adalah Amar Ma’ruf, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP yang meraih IPK sempurna 4,00. Amar juga menyelesaikan studinya dalam waktu hanya 1 tahun 9 bulan 30 hari.
Sementara itu, sambutan mewakili wisudawan disampaikan oleh Ayu Alifia Widianingrum, lulusan S1 Pendidikan Matematika FKIP dengan IPK nyaris sempurna 3,99. Ayu adalah putri pertama dari almarhum Nanang Supriyanto, warga Sanggrahan, Wates, Kota Magelang.
Dalam pidatonya, Ayu membagikan kisah perjuangannya yang penuh liku:
“Menjadi seorang sarjana adalah wujud nyata dari mimpi yang berulang kali diuji oleh waktu, lelah, dan harapan.”
Suasana wisuda semakin emosional saat Ayu Alifia Widianingrum, wisudawan terbaik dari Prodi Pendidikan Matematika FKIP, menyampaikan sambutan mewakili seluruh wisudawan. Dalam pidatonya, ia menyingkap perjuangannya sebagai anak dari keluarga sederhana yang akhirnya berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude IPK 3,99.
“Lahir dari keluarga yang sederhana, orang tua yang tak pernah merasakan bangku kuliah, saya sering diragukan. Ayah saya, almarhum H. Nanang Supriyanto, bahkan menuliskan ‘Wisudawan Terbaik Universitas’ dalam catatannya, meski ia tak pernah mencapainya. Kini, saya melanjutkan mimpinya,” ucap Ayu dengan suara bergetar.
Ia juga menceritakan bagaimana sang ibu, Santi, bekerja keras sendiri demi mendukung pendidikannya setelah ayahnya wafat pada tahun 2017. Adiknya, Putri, menjadi salah satu alasan kuat Ayu untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
“Terima kasih juga untuk adik saya Putri yang menjadi salah satu semangat saya untuk cepat-cepat lulus agar bisa membiayai pendidikannya,” tutup Ayu dengan haru.







