Nama pengusaha minyak dan gas, Riza Chalid, kembali mencuat ke publik usai dituding sebagai dalang di balik kerusuhan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Sosok yang pernah dijuluki “mafia migas” itu kini menjadi sorotan, di tengah gelombang demonstrasi yang berujung pada aksi anarkis dan penjarahan.
Riza Chalid merupakan salah satu tersangka dalam kasus korupsi minyak mentah di Pertamina. Dari total 18 tersangka yang ditetapkan Kejaksaan Agung (Kejagung), hanya dirinya yang hingga kini belum berhasil ditangkap. Keberadaannya pun diduga sudah tidak lagi di Indonesia.
Menanggapi tudingan keterlibatan Riza Chalid dalam kerusuhan terbaru, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa kepolisian akan menindaklanjuti dugaan tersebut. “Seluruh proses penyelidikan akan dilakukan berdasarkan fakta dan bukti yang ditemukan di lapangan,” ujarnya.
Isu mengenai keterlibatan Riza Chalid bahkan disebut oleh tiga menteri yang menyoroti rekam jejak kontroversialnya dalam dunia politik dan ekonomi nasional. Hal itu semakin memperkuat pandangan publik bahwa pengusaha migas tersebut memiliki pengaruh besar di balik dinamika yang terjadi.
Di sisi lain, Kejagung terus melanjutkan proses hukum terhadap Riza Chalid. Sejumlah aset bernilai triliunan rupiah yang diduga terkait dengan tindak pidana korupsi dan pencucian uang telah disita. Aset tersebut meliputi kilang minyak PT Orbit Terminal Merak (OTM) di Cilegon, Banten, tiga unit rumah mewah di kawasan Rancamaya Golf Estate, Bogor, serta berbagai kendaraan dan uang tunai yang terhubung dengan jaringan bisnisnya.
Dengan status buron nasional, keberadaan Riza Chalid masih menjadi misteri. Sementara itu, publik menunggu langkah tegas aparat penegak hukum dalam mengungkap kebenaran terkait dugaan perannya dalam eskalasi kerusuhan yang belakangan terjadi di Indonesia.







