Seperti ditempat lain, IGD ternyata tak lepas dari mitos yang kental dan tak masuk akal, namun bagi tenaga kesehatan mau tak percaya hampir semua merasakan hal yang sama yaitu beneran terjadi. Mitos tersebut adalah bilang kalimat sepi di ruang IGD rumah sakit manapun.
Banyak tenaga medis percaya bahwa mengucapkan kata “sepi” di IGD bisa membawa kesialan karena tak lama kemudian pasien berdatangan. Mitos atau kebetulan? Simak penjelasan medis dan psikologinya di sini.
Jangan sekali-kali dengan sengaja datang ke IGD terdekat, kemudian bilang: “Kok IGDnya sepi ya?”
Kalau iya, kamu bisa habis dipelototi dokter dan perawat jaga. Jadi gini bre, bagi tenaga medis, kalimat sederhana itu terdengar seperti kutukan atau pamali diucapkan. Loh kok bisa?
Meskipun terdengar gak masuk akal, namun sering benar terjadi , hanya dalam hitungan menit, satu per satu pasien berdatangan. Dari luka ringan hingga kasus berat seperti kejang, stroke, dan serangan jantung.
Hari yang semula tenang berubah menjadi sibuk luar biasa.
Meski hanya mitos, larangan mengucapkan “sepi” di IGD sebenarnya memiliki makna positif, itu menjadi bagian dari budaya kerja dan solidaritas antar tenaga medis, yang saling mengingatkan agar tetap waspada.
Secara medis, tentu tidak ada hubungan sebab-akibat antara ucapan “sepi” dengan datangnya pasien. Namun, fenomena ini bisa dijelaskan melalui psikologi dan kebetulan.
1. Kebiasaan yang Bias
Tenaga medis cenderung mengingat kejadian ketika “kata sepi” diucapkan dan kemudian IGD ramai. Namun, ketika kata itu diucapkan dan situasi tetap tenang, mereka jarang memperhatikannya.
Hasilnya: otak kita memperkuat keyakinan bahwa kalimat tersebut memang membawa “sial”.
2. Dinamika IGD yang Tak Terduga
IGD adalah bagian rumah sakit yang paling dinamis. Kapan pun bisa datang pasien dengan kondisi darurat. Jadi, kemungkinan datangnya pasien setelah “ucapan pamali” memang tinggi karena faktor kebetulan waktu.
3. Makna Simbolik
Ucapan “sepi” dianggap seperti tanda lengah. Padahal, di dunia medis, kewaspadaan harus dijaga setiap saat. Dengan tidak menyebut “sepi”, tenaga medis secara tidak langsung diingatkan untuk tetap siaga.






