Warga Magelang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah belakangan merasakan udara yang lebih dingin, terutama saat malam hingga pagi hari. Kondisi ini terjadi di tengah kabar Eropa yang justru sedang menghadapi gelombang panas ekstrem dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah.
Lantas, mengapa Magelang bisa terasa dingin ketika sebagian wilayah Eropa mengalami panas menyengat?
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), salah satu penyebab suhu dingin saat musim kemarau adalah pengaruh Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara yang relatif kering dan lebih dingin dari Australia menuju Indonesia. Ketika udara kering masuk, tutupan awan berkurang sehingga panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan pada malam hari. Akibatnya, suhu malam hingga dini hari terasa lebih rendah. (BMKG)
Fenomena ini juga sering dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding, yaitu kondisi udara dingin yang muncul saat musim kemarau akibat langit cerah dan minim awan. BMKG menjelaskan fenomena tersebut bukan merupakan cuaca ekstrem, melainkan bagian dari dinamika atmosfer yang umum terjadi ketika musim kemarau.
Selain itu, posisi geografis juga menjadi faktor penting. Indonesia dan Eropa berada di wilayah yang berbeda sehingga pola cuaca yang terjadi tidak selalu sama. Saat sebagian Eropa mengalami penguatan massa udara panas akibat sistem tekanan tinggi atau “heat dome”, Indonesia bagian selatan justru dapat mengalami aliran udara kering dari Australia. (The Guardian)
BMKG sebelumnya juga menyebut aktivitas Monsun Australia masih berpengaruh terhadap kondisi musim kemarau Indonesia 2026. Beberapa wilayah mengalami penurunan suhu karena masuknya massa udara kering tersebut.
Sementara itu, gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 menyebabkan sejumlah negara mencatat suhu tinggi dan memecahkan rekor panas. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut gelombang panas tersebut berdampak pada kesehatan, lingkungan, hingga infrastruktur di beberapa wilayah Eropa.
Jadi, udara dingin di Magelang dan panas ekstrem di Eropa bukanlah kondisi yang bertentangan. Keduanya merupakan hasil dari pola sirkulasi atmosfer yang berbeda di masing-masing wilayah.






