Tradisi Apitan Grobogan dalam menyambut Sedekah Bumi

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Tradisi Apitan atau lebih dikenal dengan istilah sedekah bumi. Sedekah bumi adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Jawa, khususnya di Grobogan . Tradisi Apitan biasanya rutin di gelar pada bulan Apit dalam kalender Abage atau lebih tepatnya pada bulan dzulqo’dah dalam penanggalan Hijriyah.
Tradisi Apitan itu sendiri memiliki sebuah makna yang sangat dalam, yakni sebuah apresiasi dan wujud rasa syukur warga terhadap nikmat yang telah di berikan oleh Allah SWT kepada warga Grobogan. Salah satunya adalah hasil panen yang selalu melimpah ruah sebagai bentuk rasa syukur kita adalah melakukan sedekah bumi, dengan harapan adanya sedekah bumi yang dilakukan di setiap tahun sekali maka bumi akan bersahabat dengan kita, jauh dari kemiskinan dan kekurangan yang ada hanya kemakmuran dan kebahagiaan pada desa Kebonagung Grobogan.
Ungkapan rasa syukur yang dilakukan masyarakat Grobogan tidak hanya melakukan ritual sedekah bumi saja, Namun juga menyelenggarakan sebuah kesenian yang sangat unik yaitu sebuah pergelaran wayang kulit yang dilakukan pada siang dan malam hari. Adapun tempat di selenggarakan acara tersebut biasanya bertempat di kediaman Bapak kepala desa Kebonagung Grobogan. Dalang untuk pergelaran wayang kulit mengambil Ki Tuntut dari Klaten dan mengambil lakon Wahyu Tri Manggolo .
Di dalam ritual tersebut terdapat hiburan yang biasanya di meriahkan oleh warga setempat maupun pengunjung dari luar desa , sehingga warga berbondong-bondong untuk memeriahkan pergelaran wayang kulit yang konon katanya pergelaran tersebut bermula dari ajaran sunan kalijaga yang bertujuan untuk menyebarkan Islam ke seluruh tanah Jawa melalui pendekatan budaya ini, sampai sekarang budaya ini menjadi tradisi masyarakat Jawa khususnya di Grobogan.
Dalam tradisi Apitan seluruh warga masyarakat dan para perangkat desa membawa sajian berupa panggang ayam, nasi dan berbagai lauk seperti keluban ( kudapan) , Kresek ( ikan asin) dan mie. Sajian tersebut diserahkan kepada petugas. Hasil dari ayam panggang tersebut di bagi menjadi beberapa bagian, sebagian ayam panggang tersebut dimakan ditempat prosesi ritual apitan dan sebagian dibawa pulang untuk dimakan dirumah.
Rangkaian selanjutnya yaitu kepungan, prosesi kepungan antara lain sambutan dan wejangan dari kepala desa ( Bpk. Muhtarom) menegaskan bahwa apitan ini hanyalah seremonial semata. Adapun do’a dan rasa syukur tetap di tunjukan kepada Allah SWT. Kemudian membaca do’a yang di pimpin oleh mbah modin ( sesepuh desa) untuk mengawali prosesi kepungan nasi berkat yang telah dipersiapkan oleh warga desa Kebonagung Grobogan .

Pos terkait