Tradisi Nadran di Indramayu Dalam Menyambut Pesta Laut

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Penulis : Muhammad Nurkholish (Mahasiswa Program Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang)

Tradisi adalah kebiasaan atau sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama berasal dari nenek moyang yang datang secara turun menurun di masyarakat daerah tersebut. Diberbagai daerah di Indonesia pasti memiliki tradisinya masing-masing, salah satunya di kabupaten Indramayu yang memiliki tradisi Nadran. Tradisi Nadran di Indramayu masih dilestarikan dan dilakasanakan secara rutin setiap tahun.

Nadran adalah suatu upacara tradisional di Indramayu berupa pesta laut yang diadakan oleh para nelayan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Selain itu nadran juga bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar selalu mendapatkan perlindungan dari makhluk-makhluk halus yang berada dilautan lepas. Upacara ini juga bertujuan untuk mensyukuri nikmat atas hasil tangkapan ikan yang melimpah, mengharap peningkatan hasil pada tahun mendatang dan berdoa agar tidak mendapat aral melintang dalam mencari nafkah dilaut, inilah maksud utama dari upacara nadran.

Upacara dilaksanakan setiap bulan Syuro karena dianggap berkaitan dengan musibah banjir yang dialami oleh nabi Nuh AS. Namun, seiring dengan perkambangan zaman, waktu penyelenggarannya dilakukan pada masa along, masa dimana para nelayan berhasil memperoleh tangkapan yang melimpah.

Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya islam dan hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun menurun. Kata nadran sendiri menurut sebagian masyarakat berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama islam itu pemenuhan janji, adapun inti acara nadran adalah mempersembahkan sesajen yang merupakan ritual dalam agama hindu untuk menghormati roh leluhurnya kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan). Sesajen yang diberikan yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makana khas, dan lain sebagainya sebelum dilepaskan di laut.
Sedangkan jalannya upacara sendiri diawali dengan ijab kabul atau pengesahan sesajen, penyiapan sesajen, penyimpanan sesajen diatas kapalan, pertunjukan wayang kulit, pelepasan kapalan, pelarungan kapalan kelaut, dan ditutup dengan perebutan kapalan (ranjahan) yang berlangsung dilaut pada kedalaman 4 hingga 7 meter.

Tradisi kebudayaan perlu dilestarikan dan jangan sampai dilupakan oleh anak cucu bangsa Indonesia agar mereka juga tahu bahwa Indonesia mempunyai banyak tradisi kebudayaan daerah, mari kita ambil positifnya bukan hanya sekedar dari sisi budaya tetapi juga dari sisi ekonomi, pariwisata dan dari sisi lainnya sehingga ada nilai-nilai positif agar tercipta kontribusi untuk daerah kita sendiri.

Pos terkait