Saat ini satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting.
Menurut Kemenkes, stunting adalah kondisi yang mana anak balita memiliki nilai z-score yang kurang dari -2.00 standar deviasi. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi yang berulang, dan simulasi psikososial yang tidak memadai
Stuting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang berusia dibawah 5 tahun (balita) akibat kekurangan asupan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) Yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Stunting juga dapat di tentukan oleh indeks antropometri yang menggunakan data panjang badan berdasarkan umur (PB/U) untuk usia dibawah 2 tahun dan menggunkan data Tinggi badan berdasarkan umur (TB/U) untuk usia anak 2 tahun ke atas.
Stunting ditandai dengan beberapa gejala sebagai berikut:
- Berat badan tidak naik atau cenderung turun. Selain itu berat badan lebih rendah dibanding anak seusianya juga merupakan gejalanya.
- Tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya.
- Pertumbuhan tulang tertunda.
- Perkembangan tumbuh terhambat.
- Anak lebih mudah terkena infeksi.
Stunting adalah problem bangsa hingga hari ini, dan merupakan ancaman untuk anak-anak generasi penerus masa depan kita. Kondisi prevalensi stunting menurut provinsi berdasarkan survei status gizi balita Indonesia pada tahun 2019, menempatkan 13 provinsi dengan prevalensi sangat tinggi, diantaranya Nusa Tenggara Timur 43.82 %, Sulawesi Barat 45.38%, Nusa Tenggara Barat 37.85%, Gorontalo 34.89%, dan Aceh 33.60%.
Sebanyak 17 provinsi dengan prevalensi tinggi, diantaranya Papua 29.36% dan Maluku 29.7%. Terdapat empat provinsi dengan prevalensi sedang yaitu DKI Jakarta 19.96%, Bangka Belitung 19.93%, Kepulauan Riau 16.82%, dan Bali 14.42%.
Di sini ada dua kelompok faktor sebagai indikasi masalah gizi kronis di antaranya :
- Penyebab langsung yaitu suatu kurangannya asupan makanan bergizi dan infeksi berulang dalam jangka waktu tertentu.
- Penyebab tidak langsung yaitu terdiri dari berbagai faktor yang mempengaruhi terjadinya penyebab langsung dari stunting akbibat masalah gizi kronis. Faktor-faktor tersebut antara lain terkait masalah akses terhadap makanan bergizi, pola asuh yang kurang optimal, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, praktik hygiene, atau masalah kesehatan lingkungan yang mempengaruhi akses ke air bersih dan sanitasi (lingkungan). Penyebab tidak langsung ini dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang mendasar seperti faktor ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan/atau pemberdayaan perempuan.
Stunting sendiri merupakan penyakit kronik yang dapat berdampak buruk bagi penderitanya maupun bagi negara. Dampak-dampak ini diantaranya seperti:
- Kesulitan belajar
- Kemampuan kognitif yang lemah
- Rentan terhadap penyakit infeksi
- Resiko mengaami berbagai penyakit kronis.
- Ibu yang lahir stunting cenderung melahirkan anak yang mengalami stunting sehingga menyebabkan kemiskinan antar generasi.
- Melebarkan kesenjangan ekonomi
- Menurunkan PDB dan potensi kehilangan pendapatan
Stunting sendiri dapat dicegah pada masa sebelum atau selama periode emas. Karenanya berbagai intervensi penting dilakukan sejak dini, mulai dari mempersiapkan kondisi gizi dan kesehatan calon ibu hingga memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak anak berada dalam kandungan hingga usia 2 tahun.
Gizi yang baik merupakan pondasi penting bagi seorang anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Terutama bagi mereka yang tumbuh dan berkembang di lingkungan yang rentan. Hasil survei status gizi Indonesia pada tahun 2021 menunjukkan satu dari empat anak Indonesia mengalami stunting dan satu dari sepuluh anak mengalami gizi kurang.
Pemberlakuan gerakan promosi pemberian makanan bayi dan anak mencakup inisiasi menyusui eksklusif sampai bayi berusia enam bulan dan sampai dengan 2 tahun. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dengan menggunakan asupan makanan tinggi protein hewani, sejak anak berusia enam bulan, yang mana sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kandungan gizi seimbang bisa didapatkan dari pangan yang banyak beredar di masyarakat. Untuk ibu hamil atau sebelum bayi lahir, pangan yang dianjurkan setiap kali makan adalah ikan minimal 4 kali seminggu dengan porsi minimal 75 gram sampai 100 gram, 1-2 butir telur sehari, susu, pangan hewani, dan lauk-pauk lainnya.







