Pentingnya Literasi Digital: Menyaring Fakta dari Hoaks di Media Sosial

  • Whatsapp
Foto: Pangesti Ro’idatul Afifah - Mahasiswi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat UGM

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat luas. Informasi begitu mudah diakses hanya dalam genggaman tangan, namun di balik kemudahan tersebut terselip ancaman besar yaitu hoaks yang dapat memecah belah masyarakat serta merusak kepercayaan publik.

Berdasarkan siaran Pers Kominfo No. 02/HM/KOMINFO/01/2024, hingga akhir tahun 2023, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menangani sebanyak 12.547 isu hoaks yang tersebar di berbagai platform digital (Kominfo, 2024). Data ini menunjukkan bahwa penyebaran informasi palsu masih menjadi tantangan serius di era digital. Ironisnya, tidak sedikit masyarakat yang mudah percaya dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi, menandakan rendahnya tingkat literasi digital.

Bacaan Lainnya

Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gadget, melainkan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menyaring informasi digital. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan karena masih dalam tahap perkembangan kognitif dan emosi. Mereka mudah percaya, terpengaruh, dan belum memiliki kapasitas memilah informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Masalah semakin kompleks ketika orang tua dan guru sering kali tidak memiliki pemahaman memadai tentang literasi digital. Banyak yang beranggapan bahwa kemampuan menggunakan phonecell pintar sudah cukup untuk disebut “melek digital”. Padahal, literasi digital sejatinya jauh lebih mendalam dan mencakup tanggung jawab moral untuk menyaring fakta demi kebaikan bersama.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengatasi hoaks, salah satunya dengan UU ITE sebagai landasan hukum utama yaitu Pasal 28 Ayat (3) UU ITE 2024. Namun, Efektivitas Undang-Undang ITE tersebut hingga kini masih menimbulkan perdebatan. UU ini lebih bersifat represif dan punitive yang mana lebih terfokus pada upaya menindak upaya hukum setelah hoaks menyebar, daripada preventif dan edukatif yang mencegah sejak awal. Meski pemerintah telah menggulirkan berbagai program literasi digital, seperti Pelatihan Literasi Digital Sektor Pemerintahan, sayangnya upaya ini masih bersifat parsial dan belum menyentuh akar persoalan secara menyeluruh.

Foto : Ilustrasi Saring Berita Hoaks

Kelemahan utama terletak pada pendekatan yang terlalu top-down, minim kolaborasi antar-kementerian, dan abai terhadap aspek psikologis serta sosiologis masyarakat. Literasi digital tidak bisa hanya diajarkan lewat pelatihan teknis, namun harus dibarengi pemahaman kontekstual dan partisipasi masyarakat akar rumput.

Masyarakat, khususnya orang tua dan guru, harus menjadi garda terdepan dalam memutus rantai penyebaran hoaks. Perlu adanya Pendidikan literasi digital sejak dini, dengan edukasi yang tepat, sehingga anak-anak dapat memiliki pola pikir yang kritis sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan cara mengevaluasi sumber informasi online, mendeteksi berita palsu, dan memahami bias yang mungkin ada. Ini bisa dilakukan di sekolah maupun di rumah dengan bimbingan orang tua. Dengan bekal literasi digital, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi warga digital yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Literasi digital perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan alat bantu untuk mengajarkan literasi digital kepada siswa dan masyarakat serta tentunya dibutuhkannya dukungan melalui kolaborasi nyata antara pemerintah, akademisi, industri tekhnologi yang diperlukan. Selain itu, para ahli di bidang teknologi juga dapat berkontribusi dalam meningkatkan sistem deteksi terhadap konten negatif serta mendorong partisipasi aktif pengguna dalam melaporkan pelanggaran konten. Melalui kolaborasi semacam ini, upaya penguatan literasi digital dapat dilakukan secara luas dan terstruktur. Di samping itu, sangat penting untuk membekali masyarakat dengan kemampuan berpikir kritis agar mampu memahami dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari internet dengan lebih cermat.

Jika kita ingin menciptakan generasi yang cerdas dan tangguh secara digital, maka solusinya bukan hanya pada regulasi, tetapi pada keterlibatan aktif masyarakat itu sendiri. Karena melawan hoaks bukan hanya tugas hukum, melainkan juga tanggung jawab sosial bersama.

Sayangnya, inisiatif-inisiatif literasi digital yang ada masih menghadapi sejumlah tantangan serius, seperti kurangnya tenaga pendidik yang kompeten di bidang ini, keterbatasan akses terhadap infrastruktur digital di wilayah-wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Di sisi lain, budaya konsumsi informasi yang serba cepat tanpa disertai kemampuan berpikir kritis membuat hoaks semakin mudah diterima dan menyebar luas.

Koordinasi antar instansi pemerintah pun belum berjalan optimal, dan belum ada peta jalan nasional yang benar-benar terintegrasi dalam menangani isu literasi digital secara menyeluruh. Hal ini memperlihatkan bahwa pendekatan teknis semata dirasa kurang cukup, sehingga dibutuhkan strategi yang menyentuh ranah sosial, budaya, dan pendidikan secara bersamaan.

Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar abad 21. Melalui pendekatan realistis dan bertahap, kelemahan implementasi dapat diminimalkan. Upaya ini bukan hanya melindungi masyarakat dari hoaks, tetapi juga memperkuat demokrasi dan kepercayaan sosial sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Sama seperti pisau yang bisa digunakan untuk memasak atau melukai, media sosial bisa menjadi alat edukasi luar biasa atau sumber kekacauan informasi. Pilihan ada di tangan kita, membangun masyarakat yang cerdas secara digital atau membiarkan hoaks terus menggerus kepercayaan dan persatuan bangsa.Investasi dalam literasi digital hari ini akan menentukan kualitas demokrasi, kohesi sosial, dan masa depan peradaban kita di era digital yang terus berkembang. Karena di dunia digital yang kompleks ini, memiliki akses informasi saja tidak cukup, yang lebih penting adalah kemampuan memahami dan memilah informasi dengan bijak.

Pos terkait