Kecerdasan Buatan Berpotensi Gantikan Profesi Akuntan?
Program studi akuntansi dari dulu hingga sekarang masih menjadi jurusan kuliah yang paling diminati oleh calon mahasiswa. Peluang kerja yang luas dan menjamin menjadikan pejuang PTN dan PTS menjatuhkan pilihan mereka dijurusan ini. Seseorang yang telah menempuh pendidikan tinggi jurusan akuntansi serta lulus Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) disebut akuntan. Berdasarkan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), akuntan adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang akuntansi. Standar utama akuntansi yang digunakan di Indonesia adalah IFRS (International Financing Reporting Standards) dan berlaku pada skala global. Sedangkan AI ( Artificial Intelligence) adalah kecerdasan buatan yang dirancang disistem komputer yang dapat meniru kemampuan intelektual manusia. AI dianggap sebagai salah satu kunci untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas diberbagai sektor, seperti keungan, manufaktur, kesehatan, dan lain-lain.
Dinamika perkembangan teknologi AI membawa perubahan yang cukup besar di era Revolusi Industri 4.0. Penggunaan AI bertujuan untuk menunjang produktivitas pekerjaan akuntan. Analisis data yang jumlahnya besar baik ribuan bahkan jutaan dan tidak terstruktur seperti tingkat penjualan, persediaan barang siap dijual, pembelian, pelunasan utang piutang, dan sebagainya. Kompleksnya data menyebabkan akuntan perlu adanya teknologi khusus yang dapat membantu merapikan, mengolah, dan menganalisis data. Algoritma AI dapat memproses data keungan dengan cepat dan meminimalisasi risiko kesalahan manual. Hal ini mendorong akuntan agar dapat lebih terlibat dalam peran strategis sebagai analisis keuangan dan financial planner. Selain itu, kecerdasan buatan yang diterapkan dikomputer dapat membantu pencegahan dan deteksi penipuan. Mesin yang tidak tergoda akan uang dan kekuasaan dapat mendeteksi jika terjadi penyimpangan, seperti penyalahgunaan dana, pencurian aset, pencurian uang tunai, dan penghindaran pajak.
Michael Osborne dan Carl Frey, peneliti dari Universitas Oxford, telah melakukan riset mengenai risiko otomatisasi yang akan dihadapi oleh suatu profesi. Hasil penelitian menunjukkan presentase risiko akuntan tergantikan sebesar 95% . Peran seorang akuntan di 20 hingga 30 tahun ke depan diperkirakan akan terdisrupsi oleh perkembangan teknologi, khususnya AI. Hal ini memperkuat perspektif masyarakat mengenai isu profesi akuntan akan tergantikan. Adanya otomatisasi tentu akan mengurangi beberapa kegiatan rutin akuntan, seperti pencatatan dan pengarsipan transaksi, serta penyusunan laporan keuangan. Hal ini bukan berarti peran akuntan akan sepenuhnya tergantikan oleh kecerdasan buatan melainkan pekerjaan mereka akan berubah seiring berjalannya waktu. Laporan keuangan suatu perusahaan yang disajikan bukan kondisi perusahaan yang sebenarnya maka dalam hal ini tetap membutuhkan peran seorang akuntan. Selain itu, informasi dan jumlah pencatatan transaksi yang ditampilkan oleh komputer perlu divalidasi terlebih dahulu oleh akuntan apakah sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) atau belum.
Seorang akuntan yang profesional harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sekitar. Menghadapi tantangan dengan bijak dan mengembangkan pola pikar yang kreatif. Peningkatan dan pengembangan skill sangat diperlukan agar akuntan tetap relevan di era industri yang serba digital. Kemampuan tersebut dapat berupa penguasaan bahasa asing, perencanaan finansial yang akurat, analisis data, dan lain-lain. Akuntan juga dapat mengembangkan karier melalui sertifikasi. Sertifikasi professional bertujuan untuk mngetahui dan mengukur kompetensi seseorang yang telah didapat baik melalui pelatihan, pengalaman kerja, ataupun pembelajaran. Sertifikasi professional menjadi modal perusahaan untuk menanamkan kepercayaan kepada seseorang. Selain itu, akuntan harus berani mempelajari sesuatu yang baru dan selalu memanfaatkan kesempatan dengan semaksimal mungkin.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya AI tidak sepenuhnya menggantikan akuntan tetapi hanya sebagai fasilitas untuk memudahkan akuntan dalam menyelesaikan pekerjaan. AI hanyalah kecerdasan buatan manusia yang tetap memerlukan peran akuntan dalam mengecek keakuratan informasi. Proses penyusunan laporan keuangan yang cepat dapat membantu pimpinan perusahaan untuk melakukan decision making (pengambilan keputusan). Akantetapi, akuntan akan benar-benar tergeser apabila tidak mengasah dan meningkatkan kemampuan terutama dibidang teknologi. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa salah satu skill penting yang harus dimiliki akuntan adalah teknologi informasi. Oleh karena itu, akuntan diharapkan lebih familiar terhadap penggunaan teknologi.
Nama : Ima Rahayu Solekhah
Universitas Tidar






