Pengaruh Penggunaan Media Loose Parts Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

  • Whatsapp

⚠ Artikel ini adalah artikel berita warganet. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki Pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal, dan informal.

Dalam lima tahun pertama yang disebut dengan The Golden Years, seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang.  Pada usia ini, 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk.  Perkembangan otak terjadi secara keseluruhan pada keempat bagian otak, termasuk pada masing-masing belahan otak.  Belahan otak inilah yang akan menyimpan kemampuan-kemampuan anak yang berbeda, yakni pada belahan otak kanan maupun otak kiri.  Di masa-masa inilah, anak seyogyanya sudah mulai diarahkan.  Saat keemasan ini tidak terjadi dua kali.

Pada dasarnya, perkembangan kognitif sebagai salah satu dari perkembangan anak usia dini merupakan salah satu aspek yang berperan penting dalam kehidupan pembelajaran. Perkembangan kognitif merupakan sesuatu yang mengacu pada berbagai perubahan pada proses berpikir sepanjang siklus kehidupan anak dimulai dari konsepsi hingga usia delapan tahun (Khadijah & Amelia, 2020). Kapasitas kognitif anak penting untuk berkembang karena fungsinya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan seseorang sepanjang hidupnya. Kapasitas kognitif tercakup di dalamnya kemampuan dalam mengembangkan pengetahuan berdasarkan objek yang ditangkap oleh panca indera.

Perkembangan kognitif sangat penting dan sangat diperlukan bagi anak karena (1) mengembangkan daya ingat, berdasarkan apa yang anak lihat, dengar dan dirasakan (2) melatih daya ingatannya seperti kejadian yang pernah dialaminya, (3) mengembangkan pemikiran anak dari peristwa satu dan yang lainnya (4) menumbuhkan keberanian anak untuk berekspresi. (5) memecahkan permasalahan sederhana (6) mengetahui macam simbol yang berada pada lingkungan. (Sujiono, 2014).

Secara teoritis penggunaan media loose parts dianggap memberi peluang pada anak untuk melakukan kontak secara langsung dengan lingkungannya. Kontak secara langsung yang terjadi antara anak usia dini dengan lingkungannya melalui penggunaan media loose parts dalam proses pembelajaran diyakini membawa berbagai manfaat. Istilah Loose Parts berasal dari bahasa Inggris yang jika diartikan berarti bagian yang longgar atau lepasan. Disebut Loose Parts karena material yang digunakan merupakan bagian atau kepingan yang mudah untuk dilepas dan disatukan, dapat digunakan sendiri atau dapat pula digabungkan dengan benda-benda lainnya untuk menjadi satu kesatuan dan setelah tidak digunakan dapat dikembalikan pada kondisi dan fungsi semula. Jadi, dikatakan Loose Parts karena material yang digunakan dapat disatukan dan dapat dilepaskan Kembali (Farida, 2017).

Media pembelajaran loose parts berbahan plastik berpengaruh pada kemampuan bahasa dan kemampuan fisik motorik halus pada anak usia 4-5 tahun (Nur Istim, Hendratno, 2019), kemampuan berpikir kreatif anak usia dini (Eriani et al., 2022), kemampuan 4c anak yang meliputi kemampuan dalam aspek kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan berfikir kritis setelah diterapkannya model pembelajaran STEAM menggunakan media loose parts.

Kegiatan pembelajaran menggunakan loose parts sudah dilaksanakan di TK PGRI Deyangan 2 Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.  Media loose parts yang digunakan berupa batu-batuan, balok, biji-bijian, kerang, tutup botol bekas dan botol bekas.  Dengan loose part tersebut anak bisa berkreasi dan berimajinasi sesuai apa yang mereka pikirkan.  Perkembangan kognitif atau daya pikir pada anak bisa dilihat ketika seorang anak memunculkan ide-ide dan pemikiran yang abstrak atau imajinasi mereka.  Kita sebagai guru dan orang tua harus selalu melatih kemampuan kognitif anak bisa dengan mengenalkan anak dengan angka, huruf, berhitung, mendengarkan hingga menghafalkan hadis dan doa.

Berikut ini manfaat pembelajaran yang menggunakan loose part yaitu :

1) Mengembangkan Keterampilan Motorik 

Ketika anak-anak memegang dan mengambil benda kecil, mereka menggunakan otot-otot jari dan tangan. Begitu pula ketika memindahkan dan memanipulasi material ke tempatnya. (Motorik halus)

Otot anak juga digunakan saat mengangkat, menarik, mendorong, dan membawa loose part yang lebih berat ke posisi yang diinginkan.  (Motorik kasar)

2) Mengembangkan Kecerdasan (Kognitif)

Ketika bermain anak-anak akan menggunakan keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, berpikir abstrak dan mengeksplorasi dengan mencoba-coba.

3) Mengasah Kreativitas

Mereka akan menggunakan keterampilan merancang dan inovasi. Anak didorong untuk berpikir di luar situasi normal dan menemukan cara kreatif dan berbeda untuk menghasilkan suatu karya. Kreativitas ini dapat mengarah pada penemuan

4) Pengembangan Keterampilan Sosial

Anak berinteraksi dengan teman-temannya dalam merancang suatu produk. Mereka dapat saling berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain. Rasa canggung akan hilang seiring berjalannya waktu. Kebiasaan berkarya dengan orang lain akan memudahkan mereka bekerja dalam tim di masa depan.

Pos terkait